IST Akprind Kampus Pertama Operasikan SPBU Mini Pertamina

Rektor IST Akprind Amir Hamzah (kedua dari kanan) didampingi Direktur PT Pertamina Retail Sofyan Yusuf (ketiga dari kiri) mengisikan bahan bakar pada sebuah sepeda motor milik pembeli di SPBU Mini Kampus Akprind Jalan Bimasakti, Caturtunggal, Depok, Sleman, Sabtu (25/5/2019). - Ist/Akprind.
26 Mei 2019 10:47 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Institut Sains dan Teknologi (IST) IST Akprind Yogyakarta menjadi kampus pertama di Indonesia yang sudah memiliki Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Mini. SPBU Mini yang dibangun atas kerja sama kampus dengan PT Pertamina Retail ini secara resmi dibuka di Kampus IST Akprind Jalan Bimasakti, Sapen, Caturtunggal, Depok, Sleman, Sabtu (26/5/2019).

Rektor IST Akprind Jogja Amir Hamzah menjelaskan rencana pembangunan SPBU mini di kampus itu telah digagas sejak 2016 silam. Setelah melalui proses yang panjang, hingga baru terwujud pada 2019. Pihaknya mengapresiasi Pertamina karena telah memilih Akprind sebagai pilot project dan kampus pertama di Indonesia yang menyediakan SPBU Mini.

“Tentu kami sangat bangga karena jadi pilot project dan kampus pertama di Indonesia yang ada SPBU, kami berharap ini bisa dikembangkan di kampus-kampus lain,” terang Amir dalam keterangan persnya.

Amir berharap keberadaan SPBU mini di Kampus Jalan Bimasakti itu bisa memicu kegiatan baik mahasiswa maupun dosen terutama dalam mengembangkan program kewirausahaan sebagai kampus yang mendorong jiwa entrepreneur. Sehingga ke depan tidak hanya kerja sama pemasaran BBM saja namun juga produk pertamina yang lain seperti pelumas dan elpiji.

“Ini dibuka untuk melayani masyarakat umum juga, jadi tidak hanya dosen dan mahasiswa. Kami berharap SPBU Mini IST Akprind ini berkontribusi untuk masyarakat sehingga lebih mudah mendapatkan bahan bakar yang menjadi kebutuhan vital masyarakat,” ucapnya.

Direktur PT Pertamina Retail Sofyan Yusuf menyatakan pemilihan Akprind sebagai pilot project telah melalui proses panjang termasuk menentukan lokasi yang tepat serta luas hingga bisa terbangun di Kampus Jalan Bimasakti yang dinilai strategis. SPBU Mini ini sementara mampu menampung 10.000 liter BBM jenis pertalite. Untuk perdana pihaknya menargetkan antara 2.000 liter hingga 3.000 liter pertalite bisa terjual per hari di SPBU tersebut.

“Kalau melihat lokasinya yang ramai ini, kami optimistis target itu bisa tercapai. Tentu jika ke depan ternyata prospeknya bagus, banyak permintaan akan kami tambah produk lain seperti pertamax dan jumlahnya bisa ditambah, apalagi kalau dilihat dari sisi tempat masih memungkinkan,” katanya.

Ia menegaskan pembangunan SPBU Mini di Akprind tetap memenuhi kaidah standar safety sehingga memang di sekitar area tersebut ada aturan yang harus ditaati seperti tidak boleh merokok karena resikonya besar. Dari sisi SDM untuk sementara pengoperasian masih dilakukan oleh Pertamina, begitu juga dengan pemeliharaan. Tetapi pihaknya memberikan peluang kepada kampus untuk mengelola SDM.

“Kami mengajak pihak kampus kalau memang bersedia mengoperasikan sendiri ya kami persilahkan ke depannya, nanti bagi hasilnya akan ada hitung-hitungan lagi, ini sebagai salah satu tempat berwirausaha di kalangan mahasiswa. Ini sangat bisa dilakukan kalau Akprind bersedia,” ujarnya.