Finalisasi Rute Tol Jogja-Solo Dibahas Pekan Depan

Pengendara Sepeda Motor saat terjebak macet di Pertigaan Maguwo, Sabtu (22/12/2018). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
09 Juli 2019 11:57 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Finalisasi rencana pembangunan jalan tol di wilayah Jogja terus dilakukan. Pekan depan, Pemda DIY dan Kementerian PU akan melakukan pembahasan. Salah satunya terkait trase (rute) tol Jogja-Solo.

Sekda DIY Gatot Saptadi mengatakan pada prinsipnya baik Pemda DIY dan juga Pusat sudah menyepakati hal-hal terkait pembangunan jalan tol di Jogja. "Pembangunan jalan tol di Jogja itu disepakati, tapi trasenya masih belum. Pekan depan kami akan lakukan pertemuan dengan Kementerian PU," kata Gatot kepada wartawan di Kepatihan, Senin (8/7/2019).

Disinggung soal kemungkinan pembangunan akses jalan tol menuju Bandara YIA, dia mengatakan, hal itu masih akan dibahas. Pemda katanya menyiapkan beragam jenis transportasi menuju ke bandara YIA.

"Gambaran umum kebijakan jalan tol kan tidak boleh terputus. Jaringan jalan tol harus tersambung. Nah yang di Jogja kan terputus, meskipun perencanaannya tersambung. Perkara dibangun kapan ini yang harus dibahas," katanya.

Hingga kini, lanjut Gatot, pembangunan kereta bandara masih dalam tahap pembebasan lahan setelah Gubernur DIY mengeluarkan izin IPL. Untuk jalur kereta yang disediakan sepanjang lebih dari 5 Km atau seluas 15 hingga 20 hektar.

Jalur kereta tersebut akan melewati sejumlah desa seperti Desa Kedundang, Kaligintung, Kalidengen dan Kulur di Kecamatan Temon. Desa-desa tersebut terdampak pembangunan jalur kereta di persimpangan Stasiun Kedundang.

Pemda berharap kereta bandara tersebut bisa segera beroperasi. Dengan adanya kereta, maka perjalanan ke bandara akan lebih cepat. Jadwal keberangkatan kereta juga disesuaikan dengan jadwal keberangkatan pesawat. Penumpang kereta dipatok sebesar Rp30.000 hingga Rp40.000.

"Padahal di Kualanamu ke Medan tarifnya Rp100.000. Selain untuk mengangkut penumpang dari Jogja ke bandara YIA, kereta ini kalau beroperasi bisa memangkas jarak tempuh dan biaya," katanya.

Selain kereta moda transportasi yang juga disediakan seperti Damri dan taksi. Untuk bus Damri menuju bandara dikenakan tarif sebesar Rp 40.000. Waktu keberangkatan kereta dan Damri sesuai dengan jadwal penerbangan.

"Untuk Trans Jogja belum bisa. Sebab itu angkutan perkotaan. Kami masih memikirkan moda transportasi lainnya, paling tidak bisa memaksimalkan Damri," ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi dan Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY, Hananto Hadi Purnomo mengatakan penentuan trase dan penetapan lokasi diharapkan selesai Juli ini. Dengan harapan, Agustus masuk dalam tahap pelelangan.

"Kami berharap secepatnya bisa diselesaikan. Sekarang sedang dilakukan survei untuk pemetaan trase sesuai dengan empat hal yang disarankan oleh Sultan," kata Hananto.

Dia mengatakan, empat pesan (yang menjadi arahan) Gubernur DIY Sultan HB X terkait dengan rencana pembangunan jalan tol di DIY sudah disampaikan dan disepakati oleh Pusat. Keempat saran yang diajukan oleh Sultan seperti tidak mengganggu situs-situs. Selain itu, pembangunan tol seminimal mungkin menggunakan lahan terutama lahan pertanian berkelanjutan.

Hal yang ketiga, kata Hananto, pembangunan tol juga tidak menggangu kawasan ekonomi masyarakat. Hal ini dilakukan agar pembangunan tol bermanfaat bagi masyarakat DIY. Terakhir, jangan sampai tol yang dibangun memisahkan komunitas atau membelah sebuah kawasan.

"Kalau awalnya ada satu kampung, dilewati tol jadi terbelah. Ini yang tidak diinginkan Sultan. Keempat hal ini yang menjadi acuan tim untuk menentukan trase yang akan dilewati tol," jelasnya.

Menurutnya, Pemerintah pusatlah nantinya yang menentukan trase. Pemda DIY hanya mendampingi agar lokasi-lokasi trase yang dilalui tol sesuai dengan masukkan dari Sultan. "Hasilnya nanti akan diajukan kepada Sultan untuk penentuan lokasi (Penlok). Kalau Penlok selesai bisa dilelang," katanya.