IKAL-UGM Jajaki Kerja Sama Pengentasan Kemiskinan di Jogja

Focused Group Discussion (FGD) IKAL DIY bersama para akademisi dan pakar UGM di Barat Gedung Senat UGM, Rabu (10/7/2019). - Ist
11 Juli 2019 09:47 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Ikatan Keluarga Alumni Ketahanan Nasioal Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAL-DIY) menjajaki kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) terkait Hilirisasi Penelitian Agro untuk Pengentasan Kemiskinan di DIY.

Penjajakan kerjasama diawali dengan Focused Group Discussion (FGD) bersama para akademisi dan pakar UGM serta pengusaha di DIY. Sejumlah panelis yang hadir di antaranya Konseptor Koppasindo Nusantara Paul Soetopo Tjokronegoro, Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Ali Agus, Agro-technology Innovation Center Danang Sri Hadmoko.

Ketua IKAL DIY Sugiyanto Harjo Semangun mengatakan IKAL DIY akan terlibat aktif untuk membantu Pemda DIY mengentaskan masalah kemiskinan. IKAL juga akan terlibat dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat. "Masalah serius yang dihadapi untuk kedua hal tersebut adalah kurangnya SDM yang berdaya saing," katanya, Rabu (10/7/2019).

Menurutnya, SDM di DIY kurang disiplin, belum memiliki karakter yang kuat. Untuk membentuk karakter yang kuat dan membangun nasionalisme, katanya, keterpaduan antara Kraton (Pemerintah), Kampus (akademisi), dan Kampung (masyarakat) harus dibangun untuk mewujudkan Ketahanan Nasional. "Inti dari ketahanan nasional adalah sejahtera dan aman. IKAL DIY siap mendukung kerjasama untuk riset pengembangan Penelitian Agro untuk Pengentasan Kemiskinan di DIY," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Pengembangan Manajemen Perkoperasian Indonesia (Koppasindo) Paul Sutopoyang mengaku sudah menginisiasi berbagai program inovasi pertanian. Salah satunya Gunungkidul Agro–Techno Park atau bisnis incubator. Agro Techno Park ini, misi utamanya adalah menciptakan kerja di bidang pertanian berbasiskan teknologi pedesaan.

"Bisnis inkubator ini juga bertujuan untuk mencetak UMKM dan Koperasi di desa. Produk yang dihasilkan antara lain budidaya lele, tempe tahu sehat dan berkualitas ekspor, budidaya sapi dari pembibitan, pembesaran, hingga penggemukan sapi," paparnya.

Pihaknya juga mendorong agar petani menerapkan konsep aquaponik agar tidak bergantung dengan media tanah untuk menanam agar lebih produktif. Inti dari bisnis inkubator adalah konsep Triple Helix atau sinergi dan penyatuan tiga kalangan yang terdiri dari kalangan akademik, bisnis atau pengusaha dan pemerintah. Sinergitas antara ketiganya sangat penting untuk mengentaskan kemiskinan di DIY.

Menurutnya, posisi pemerintah bukan sekadar regulator, tapi juga inisiator. Dengan masuknya pengusaha yang bisa mendanai riset dan produk riset, kemudian melibatkan kampus untuk memberikan masukan kepada pemerintah, maka kesenjangan ekonomi dan kemiskinan bisa ditekan,” tandasnya.

Baginya, menghadapi revolusi industri 4.0 tanpa riset tidaklah mungkin. Sebab, setiap usaha atau bisnis yang dijalankan harus didasarkan pada hasil riset. "Kalau hanya menggantungkan pada produksi di petani, tentu tidak akan maksimal. Yang dibutuhkan sekarang kolaboratif. Untung bersama. UGM butuh riset ada pendanaan yang cukup," ujarnya.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ali Agus mengungkapkan untuk mengentaskan kemiskinan pihaknya salah satunya melalu pengembangan Sapi Gama atau kepanjangan Gagah dan Macho. Selain itu, Fakultas Peternakan juga membuka sekolah gratis untuk masyarakat yang berfokus pada pengembangan peternakan kepada para peternak. "Para alumni juga ada yang membuat koperasi,” tuturnya.

Ia berharap dari penjajagan ini akan segera terealisasi kerjasama pengembangan riset untuk produk-produk pertanian dan peternakan yang bisa bermanfaat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat DIY.