Persembahan Sembahyang untuk Menghormati Leluhur

Para anggota Hoo Hap Hwee berdoa sebelum acara Mooncake Festival berlangsung, di Kelenteng Poncowinatan, Senin (24/9). - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
18 Juli 2019 11:22 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dalam menggelar sembahyang orang Tionghoa selalu melengkapi dengan persembahan berupa kue, buah, ataupun daging. Hal ini merupakan wujud penghormatan kepada leluhur.

Ketua I Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC) Jimmy Sutanto mengatakan orang Tionghoa biasanya melakukan sembahyang untuk mengenang leluhur. Ketika memberikan sesaji orang Tionghoa akan menggunakan beberapa jenis snack atau jajanan pasar dan ditambah tiga jenis daging hewan atau lima jenis. "Jumlahnya mau tiga atau lima itu tergantung masing-masing orangnya. Untuk kue itu jajanan pasar," kata dia, Rabu (17/7).

Ia mengungkapkan pemberian sesaji atau persembahan pada sembahyang adalah ekspresi untuk menghormati orang tua atau leluhur. Sampai saat ini pun pemberian sesaji masih dilakukan oleh orang Tionghoa. "Yang penting untuk mengingat leluhur. Di hari-hari tertentu disembahyangi. Jumlahnya mau segini-segini tergantung masing-masing, tetapi, kalau yang kolot akan ikut aturan dari zaman dahulu," papar dia.

Salah satu jajanan yang sering untuk sesaji yakni ka kwe/huat kwe yang juga dikenal sebagai kue mangkuk atau apem beras. Kue ini merupakan kue Tionghoa yang telah lama dikenal. Kue yang biasa dijual di pasar tradisional ini diperkenalkan oleh imigran dari Tiongkok selatan, yang kemudian mengalami indigenisasi.

Kue ini dikenal dengan nama kue mangkuk, karena dikukus dengan mangkuk sebagai loyang yang digunakan. Bentuk dan warna yang dipergunakan-pun beraneka ragam. Ada yang besar dan kecil sesuai mangkok yang dipergunakan. Kue ini digunakan dalam masyarakat Tionghoa sebagai persembahan dalam sembahyang hari besar.

Selain snack, ada pula buah-buahan. Salah satu buah yang kerap digunakan yakni buah jeruk. Menurut Jimmy, jeruk disebut juga dengan chi atau firasat baik sehingga diharapkan akan mendatangkan kebaikan.

Setiap sesaji dikatakan memiliki makna sendiri. Orang Tionghoa juga suka dengan gambar ikan. Pasalnya ikan memiliki makna yang sama dengan harapan adanya sisa hasil usaha di akhir tahun.