Ini Uniknya Festival Layang-Layang di Parangkusumo

Ratusan layang-layang dari berbagai negara dengan menghiasi langit Pantai Parangkusumo, Parangtritis, Kretek, Bantul, Sabtu (27/7/2019). Layang layang ini berbagai jenis ini dipamerkan dalam rangka festival layang-layang nasional yang berlangsung sampai Minggu (28/7/2019) /Harian Jogja - Ujang Hasanudin)
30 Juli 2019 10:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Ratusan layang-layang berbagai jenis menghiasi langit Pantai Parangkusumo, Sabtu (27/7/2019). Layang-layang dari berbagai negara tersebut dipamerkan dalam The 7th Annual Nusantara International Lite Festival 2019 yang digelar oleh perkumpulan pegiat layang-layang nusantara Talikama dan Dinas Pariwisata DIY.

Layang-layang yang diterbangkan bukan hanya layangan tradisional yang berbentuk segi empat atau berbentuk opal dengan ekor. Namun banyak layang-layang kreasi yang dibentuk dengan sedemikian rupa menyerupai jenis hewan seperti kucing, babi, ikan, ular, ayam. Ada juga yang dibentuk pesawat, hingga tokoh semar. 

“Saya bawa layang-layang gambar bendera Malaysia dan pesawat Malaysia Air Line,” kata Nasri Ahmad, salah satu peserta festival layang-layang internasional. Nasri sudah 12 tahun bergelut di layang-layang, namun sudah berkeliling ke berbagai negara untuk ikut festival, bahkan di Indonesia sudah lebih dari tiga kali.

“Ini memang hobi saya, bukan pekerjaan, saya bisa mengenal banyak budaya dan saya juga secara tidak langsung bisa mengenalkan budaya negara saya,” kata Nasri.   

Pemandangan layang-layang di Parangkusumo itu juga menarik wisatawan untuk menyaksikannya dari jarak dekat. Banyak wisatawan yang mendekat dan mengabadikannya melalui telepon selular. Beberapa pemilik layang-layang juga mempersilahkan pengunjung untuk mencoba memainkan layang-layang.

Ketua Umum Talikama, Herdjuno Sukotjioadi, mengatakan bahwa layang-layang kreasi itu dari berbagai negara. Total ada 11 negara yang ikut berpartisipasi dalam ajang tersebut, di antaranya adalah Malaysia, Singapura, Vietnam, Taiwan, Amerika Serikat, Cina, dan Korea. Masing-masing negara membawa lebih dari satu klub dan tiap klub menampilkan lebih dari satu layang-layang. Beberapa layang-layang yang dipamerkan juga ada yang simbol negara sesuai asal peserta.

Ia mengatakan 11 negara yang berpartisipasi dalam festival layang-layang internasional tersebut tidak dilombakan, melainkan hanya dipamerkan. “Yang dilombakan adalah peserta dari nasional sebanyak 200 peserta yang terdiri dari 40 klub atau pecinta layang-layang,” katanya disela-sela festival layang-layang.

Jenis layang-layang yang dilombakan adalah layang-layang tradisional bertema batik, layang-layang dua dimensi, tiga dimensi, layang-layang Rokkaku atau layang-layang tradisional Jepang, dan layang-layang train naga.

Herdjuno mengatakan penyelenggaraan festival layang-layang internasional kali ini lebih meriah karena perwakilan dari luar negeri cukup banyak yang ingin berpartisipasi. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi daya tarik wisata tahunan di kawasan pantai selatan DIY, terutama kawasan Parangtritis sampai Depok, yang saat ini tengah dikembangkan untuk digelar kegiatan-kegiatan kedirgantaraan.

Menurut Herdjuno, festival layang-layang tidak hanya sekedar lomba dan menyalurkan hobi, namun juga sekaligus melestarikan permainan tradisional tersebut yang sudah mendunia. Bukan hanya permainan tradisional, namuan Herdjuno menyatakan layang-layang mulai tahun ini sudah resmi masuk dalam salah satu cabang olahraga kedirgantaraan atau Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).

Juan Kristoforus Meko, salah satu panitia penyelenggara menambahkan layang-layang saat ini juga menjadi simbol diplomasi budaya, pariwisata, pendidikan, dan ekonomi kreatif. Perwakilan dari berbagai negara bisa menyaksikan layang-layang hasil kreasi dalam negeri yang dibentuk keris, semar, sampai batik. Selain itu juga dampak pariwisatanya cukup tinggi. Dari sisi pendidikan, anak-anak akan melihat bahwa layang-layang ternyata banyak jenisnya dan bisa dibuat dengan kreasi sedemikian rupa sehingga memotivasi anak untuk berreasi.

Juan mengatakan festival layang-layang internasional juga dapat memberdayakan para pelaku usaha kecil di kawasan wisata dan pengelola wisata. Selama di Jogja, para peserta dari luar negeri juga diajak berkeliling ke sejumlah objek wisata yang ada di DIY. “Khusus untuk pamerannya dua hari perkiraan pengunjung bisa sampai 50.000 orang. Tahun lalu saja pengunjung 40.000 lebih,” ujar Juan.