Potensi Tsunami 20 Meter, Pukul Kunjungan Wisatawan di Pesisir Kulonprogo

Ilustrasi tsunami. (JIBI/REUTERS - Kim Kyung/Hoon)
08 Agustus 2019 19:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Sejumlah pelaku usaha di Objek Wisata Alam Mangrove Api-api (MJAA), Desa Jangkaran, Kecamatan Temon mengeluhkan adanya penurunan jumlah kunjungan wisata pasca munculnya kabar tentang potensi gempa di sepanjang pantai Selatan Jawa dapat menimbulkan tsunami setinggi 20 meter.

Salah satu pelaku usaha di MJAA Tukiyat, 56, mengatakan sebelum mencuatnya kabar tersebut, dalam sehari terutama di akhir pekan dan liburan, wisatawan yang berkunjung ke MJAA rata-rata mencapai 3.000 orang.

Akan tetapi, setelah kabar itu muncul ke permukaan, jumlah kunjungan merosot drastis. Dia memperkirakan penurunan ini mencapai 70 persen. "Turunnya kira-kira bisa sampai 70 persen, sekarang itu bisa dapat 100 kunjungan sudah bagus," ujar Tukiyat, saat ditemui di warung makan miliknya di MJAA, Kamis (8/8/2019).

Dia mengatakan sepinya wisatawan membuat sebagian pelaku usaha yang mayoritas membuka usaha warung makan dan aneka jajanan di MJAA memilih untuk tutup. Terutama warung yang beroperasi di dekat sempadan pantai.

Sementara untuk warung-warung yang berada tak jauh dari pintu masuk obwis, seperti warung miliknya, tetap buka karena masih ramai dikunjungi oleh warga setempat dan para petambak udang.

"Dari sekitar 100 warung, yang buka hanya sebagian, kaya saya ini tetap buka, karena di sini untuk melayani para petambak udang, tapi kalau yang warung-warung deket pantai pada tutup saking sepinya wisatawan," ucapnya.

Tukiyat berharap pemerintah setempat segera turun tangan menyelasaikan persoalan ini. Dia khawatir, jika kondisi ini terus dibiarkan bakal banyak pelaku usaha gulung tikar. "Sekarang wisata lumpuh. Di sisi lain bangunan terus dikembangkan tapi pengujung gak ada, ya jatuhnya rugi," ujarnya.

Tetap Normal

Pendapat berbeda diutarakan pelaku usaha lain di MJAA, Tukiah. Perempuan yang membuka kios di samping loket masuk MJAA tersebut mengatakan informasi perihal tsunami 20 meter bisa menerjang pesisir jawa bagian selatan yang mencuat pada pertengahan Juli lalu tak berdampak siginifikan terhadap kunjungan wisatawan.

"Setiap hari libur atau atau Sabtu Minggu itu wisatawan tetap banyak kok, bisa sampai ribuan, apalagi pas libur panjang," ujarnya.

Kendati begitu dia tak menampik jika kabar tersebut sempat membuat was-was pengujung dan warga sekitar. Namun, dia tak terlalu meresahkan hal tersebut, sebab di sisi lain, fenomena seperti ini bisa meningkatkan kunjungan wisata seperti saat gelombang tinggi menerjang pesisir selatan Jawa pada Juli 2018 lalu.

"Justru banyak yang datang, soalnya kan penasaran pengen lihat kondisi pantai, selama di jarak yang aman sih ya gapapa," ujarnya.

Sebelumnya, Pakar Tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko memprakirakan, gempa megathrust dengan magnitudo 8,8 berpotensi terjadi di selatan Pulau Jawa dan bisa menyebabkan timbulnya gelombang tsunami dengan ketinggian 20 meter di sepanjang pantai tersebut.

Daerah yang berpotensi terkena dampak gelombang tsunami jika terjadi gempa megathrust di selatan Jawa khususnya di selatan DIY cukup panjang yaitu dari Cilacap hingga ke Jawa Timur.

Berdasarkan catatan, gempa besar di selatan Pulau Jawa yang menimbulkan gelombang tsunami pernah terjadi pada 1994 di Banyuwangi dengan magnitudo 7 dan pada 2006 yang menyebabkan tsunami di Pangandaran akibat gempa bermagnitudo 6,8.