Sinkronkan Pendidikan Bahasa Mandarin & K2013

Proses pelaksanaan pelatihan untuk guru bahasa Mandarin di Gedung Bhakti Putra, Jogja, 17-18 Agustus 2019./ Ist - APPBMI DPD DIY
06 September 2019 05:22 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Asosiasi Pendidik dan Pengembang Bahasa Mandarin di Indonesia (APPBMI) DPD DIY menggelar pelatihan untuk guru bahasa Mandarin dengan materi pengenalan Kurikulum 2013 (K2013) dan penerapan komponen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kegiatan itu dilaksanakan di Gedung Bhakti Putra, Jogja, 17-18 Agustus 2019.

Ketua Asosiasi Pendidik dan Pengembang Bahasa Mandarin di Indonesia (APPBMI) DPD DIY Lina Indahwati mengungkapkan kegiatan ini digelar dilatarbelakangi permintaan dari guru bahasa Mandarin yang tergabung dalam APPBMI DPD DIY untuk lebih memahami K2013. "Mereka ingin lebih mengenal Kurikulum 2013 dan penulisan di perangkat administrasi sekolah. Beberapa guru merupakan lulusan luar negeri dan yang mereka pelajari tidak bisa diterapkan di Indonesia karena kurikulum di Indonesia berbeda," ujar dia ketika dihubungi Harian Jogja, Rabu (4/9).

Kegiatan ini diikuti 20 peserta yang merupakan guru bahasa Mandarin di DIY baik yang mengajar di tingkat SD, SMP, maupun SMA. Adapun pemateri dalam kegiatan ini yakni Dosen USD, Jurusan PBI Christina Kristiyani.

"Acara ini digelar dua hari saja. Pada 17 Agustus 2019 digelar pada 13.00-17.00 WIB dan 18 Agustus 2019 pada 08.00-15.00 WIB. Karena waktu pendek, jadi kami mampatkan materinya. Di hari kedua, ada praktik untuk bikin RPP, silabus berdasarkan Kurikulum 2013," terang dia.

Ia mengakui ada perbedaan yang besar antara pendidikan di luar negeri dengan kurikulum di Indonesia. Pendidikan bahasa asing yang dipelajari adalah untuk pengguna bahasa lain. Sehingga pembelajaran yang diberikan lebih pada percakapan dasar dan lainnya.

Namun, penerapan kurikulum pendidikan di Indonesia harus berdasarkan tema sehingga sangat berbeda. Kemudian, pendekatan K2013 saat ini memakai kreativitas abad 21 yang di dalamnya ada creative thinking, critical thinking, dan memiliki kemampuan untuk mengamati. "Nah, bahasa asing juga diminta untuk seperti itu," ungkap dia.

Pelatihan semacam ini oleh APPBMI DPD DIY memang baru pertama kalinya. Namun, ada juga pelatihan dari dinas terkait. Sayangnya frekuensinya sangat jarang dan lingkupnya masih sebatas pendidik SMA.

Ia mengungkapkan APPBMI DPD DIY pun berencana menindaklanjuti pelatihan ini karena dirasa masih sebatas pemahaman teori dan penerapan awal. "Ke depan, akan dilihat kendala apa yang masih dihadapi untuk ditindaklanjuti dengan pelatihan serupa di tahun ini atau tahum depan. Kemungkinan bisa menjadi kegiatan per tahun," papar dia.

Ia berharap dengan fasilitasi semacam ini, ke depan antara kesulitan yang dihadapi guru Bahasa Mandarin akan berkurang. Ketimpangan dengan kurikulum pub diharapkan makin menipis. "Kami juga ingin ada tim yang bisa buat buku yang sesuai dengan kondisi di Indonesia, khususnya DIY dengan berkaca pada kesulitan yang dihadapi saat ini. Mencari buku yang sesuai juga enggak mudah. Buku yang ada saat ini dengan Kurikulum 2013 enggak sejalan dan timpang. Jadi kendala tersendiri," papar dia.

Lina mengungkapkan saat ini jumlah pengajar Bahasa Mandari yang menjadi anggota APPBMI DPD DIY sebanyak 30 orang. Di mana sekitar 23 orang aktif mengajar di sekolah resmi dan beberapa orang mengajar di taman kanak-kanak dan di tempat les.