Advertisement
20 Juta Liter Air Bersih Disalurkan, DIY Masih Aman
Warga mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih dari Polsek Girimulyo di Dusun Ngaglik, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Jumat (28/6/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Hingga September ini, tiga kabupaten di DIY sudah menetapkan status darurat kekeringan. Meski begitu, ketersediaan air bersih untuk droping air dinilai masih aman.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Biwara Yuswantara mengatakan setelah Gunungkidul dan Bantul, Kabupaten Kulonprogo sejak 9 September lalu sudah menetapkan status darurat kekeringan.
Advertisement
"Kulonprogo menetapkan darurat kekeringan mulai 9 September lalu untuk tujub kecamatan dan 30 desa. Jumlah KK yang disasar ada 4.100 KK," katanya kepada Harianjogja.com, Jumat (13/9/2019).
Dia menjelaskan, setelah penetapan status tersebut BPBD Kulonprogo mengajukan dana tak terduga sebesar Rp116 juta atau setara 450 tangki kepada pemerintah setempat. "Sambil menunggu dana tersebut, saat ini droping air terus dilakukan dengan dukungan masyarakat atau CSR," paparnya.
BACA JUGA
Bertambahnya kabupaten yang berstatus darurat kekeringan, kata Biwara, belum menunjukkan wilayah DIY mengalami krisis pasokan air bersih. Pasalnya, masing-masing kabupaten masih dinilai mampu mengatasi pasokan air bersih untuk kebutuhan warga terdampak.
"Masih ditangani APBD masing-masing kabupaten, swasta dan masyarakat. Masih belum menggunakan dana APBD DIY," katanya.
Hingga kini, BPBD DIY mencatat jumlah penyaluran air bersih hampir menyentuh 20 juta liter air. Air Bersih tersebut disalurkan selama musim kemarau di empat kabupaten terdampak kekeringan di DIY.
Mulai Gunungkidul (16 kecamatan, 59 desa, 162 dusun), Kulonprogo (6 kecamatan, 16 desa, 55 dusun) Bantul (7 kecamatan, 14 desa, 39 dusun) dan Sleman (1 kecamatan, 2 desa).
Dropping air masih terus dilakukan karena sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda turun hujan. Distribusi air dilakukan tidak hanya oleh pemerintah daerah tetapi juga oleh kalangan swasta. Adapun rinciannya, dari pemerintah sebanyak 3.144 tangki berisi 15,72 juta liter dan dari swasta tercatat 3.834 tangki atau sekitar 3,45 juta liter air.
Gunungkidul menjadi kabupaten paling banyak terdampak kekeringan, dengan jumlah 162 dusun pada 59 desa dengan rincian mencapai 16,48 juta liter dalam 3.297 tangki yang telah didropping. Terdiri atas 2.618 tangki yang diberikan oleh pemerintah dan 679 tangki merupakan bantuan swasta.
Di Bantul tercatat dropping air sebanyak 367 tangki berisi 1,8 juta liter air yang diberikan kepada 39 dusun di 14 desa. Kulonprogo menghabiskan 165 tangki berisi 825.000 liter air yang diberikan untuk 55 dusun. Untuk Sleman penyalurannya masih sedikit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Efek Perang Timur Tengah, Malaysia Perketat Keamanan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
- Operasi SAR Yunanta di Sungai Opak Resmi Ditutup Setelah 7 Hari
Advertisement
Advertisement








