Keroncong Pelesiran Ditonton Ribuan Pasang Mata

Orkes keroncong asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat, O.K Midaleudami, tampil sebagai pembuka acara Keroncong Plesiran 3 di Gunung Api Purba Nglanggeran, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Sabtu (14 - 9).
16 September 2019 22:07 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pariwisata (Dinpar) DIY menggelar acara musik bertajuk Keroncong Plesiran #3 di panggung terbuka Gunung Api Purba, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Sabtu (14/9/2019). Sebanyak 1.500 tiket terjual secara online.

Humas Keroncong Plesiran, Radyan Sugandi, mengatakan makna plesiran berarti berkunjung ke tempat-tempat wisata. Sebelumnya, konser yang sama pernah digelar di Hutan Pinus Mangunan, Kecamatan dlingo, Kabupaten Bantul, dan dihadiri sekitar 8.000 penonton. "Tahun lalu acara digelar di Tebing Breksi, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, dengan jumlah penonton mencapai 25.000 orang," ucapnya, Sabtu.

Menurut Radyan, Keroncong Plesiran #3 yang digelar di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran pada 2019 ini jumlah penonton tidak sebanyak tahun sebelumnya karena terbatasnya venue acara. "Penonton paling banyak justru berasal dari Jakarta," katanya.

Untuk menyemarakkan acara, sejumlah bintang tamu dihadirkan dalam acara tersebut, di antaranya Kunto Aji, Farid FSTVLST, Nufi Wardhana, Yanto Marapu, Egha Latoya, Paksi Raras Alit, Oki Kumala dan beberapa penyanyi lain. "Selain itu kami juga mendatangkan orkes keroncong dari luar Jogja," kata dia.

Kepala Seksi Pengembangan Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) Dinas Pariwisata DIY, Titik Fatmadewi, mengungkapkan yang membedakan acara ini dengan acara serupa yang digelar tahun-tahun sebelumnya yakni pemberlakuan biaya tiket masuk. "Kali ini tidak gratis alias penonton harus bayar," katanya.

Ia menjelaskan Keroncong Plesiran #3 yang digelar di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, merupakan bentuk atraksi budaya. Di sisi lain, penonton yang membeli tiket mendapat produk olahan minuman cokelat khas Nglanggeran. "Bukan hanya sajian musik saja yang ingin ditampilkan, kami juga ingin meningkatkan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Seorang penonton asal Semarang, Jawa Tengah, Dodo, rela datang jauh dari Kota Atlas karena kecintaannya terhadap musik keroncong. "Keroncong yang digelar kemasannya anak muda banget, saya tertarik untujk melihat sekalian jalan-jalan di Gunungkidul," katanya.