Perubahan Iklim Bikin Bumi Rusak, Aktivis Lingkungan Sindir Jogja yang Dijejali Hotel & Apartemen

Jampiklim menggelar aksi sosialisasi isu perubahan iklim di Titik Nol Jogja, Jumat (20/9 - 2019).Harian Jogja/Lugas Subarkah
20 September 2019 18:57 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa 90 persen bencana yang terjadi sepanjanG 2018 adalah bencana hidrometeorologi atau yang dipengaruhi oleh faktor cuaca. Hal ini merupakan dampak dari perubahan iklim.

Menanggapi fenomena ini, sejumlah aktivis yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Iklim (Jampiklim) DIY menggelar aksi sebagai sosialisasi ke masyarakat luas untuk bergerak bersama menyelamatkan bumi. Aksi berlangsung di Titik Nol Jogja, Jumat (20/9/2019).

Koordinator Aksi, Tri Noviana, mengatakan Jampiklim merupakan gabungan dari beberapa lembaga dan personal diantaranya Lembaga Kajian Islam Sosial (Lkis) dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogja. Sebelumnya mereka telah melakukan beberapa kali kajian terkait perubahan iklim.

"Aksi ini merupakan sosialisasi ke masyarakat terkait isu perubahan iklim, bahaya plastik sekali pakai dan lainnya. Kami juga mengajak masyarakat untuk mendukung aksi besar kami pada 27 Desember besok, dengan apa saja bisa berupa karya, tenaga atau materi," ungkapnya.

Ia menjelaskan Kebutuhan untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius, sebuah tujuan ambisius yang dinyatakan dalam Perjanjian Paris 2015 yang ditandatangani oleh hampir 200 negara anggota PBB, adalah keharusan untuk menghindari situasi kekacauan iklim.

persoalan dasar yang perlu terus didorong oleh masyarakat adalah terkait kebijakan energi global yang masih didominasi dan mengandalkan pada sumber-sumber energi fosil seperti batubara, gas dan minyak. "Bahkan Indonesia terus membangun proyek-proyek mercusuar pembangkit listrik tenaga fosil seperti batubara dan gas," ujarnya.

Mega proyek tersebut diantaranya seperti PLTU Batang dengan kapasitas 2x1000MW, maupun PLTGU dengan kapasitas 2x880MW sedang dalam tahap konstruksi. Begitu pula dengan proyek PLTU dan PLTGU lain seperti Indramayu 2 sebesar 1000MW, Cirebon 2 swbwsar 1000MW, Riau sebesar 275MW dan Semarang sebwsar 779MW.

Anggota Walhi Jogja, Himawan Kurniadi, menuturkan di DIY, proyek pembangunan terus dilakukan tanpa mempertimbangkan kelestarian lingkungan, terlebih perubahan iklim. "Deretan apartemen, hotel, pusat perbelanjaan dan bandara adalah produk riil pembangunan yang tak hanya rakus energi fosil tetapi juga menambah deretan persoalan efek gas rumah kaca, dan persoalan sosial," katanya.

Ia melihat beragam persoalan yang timbul seperti masalah kesehatan akibat pencemaran air dan udara baik dari tambang dan pembangkit listrik, perampasan lahan dan mata pencaharian, hilangnya situs-situs budaya, hingga masalah kasus kematian anak seperti dinafikan baik oleh pemerintah.

"Belum lagi masalah sampah plastik yang kini menjadi isu hangat di tingkat global, hanya berujung pada perubahan pola konsumsi individu tanpa ada advokasi secara fundamental terhadap kebijakan sektor energi fosil sebagai bahan pembuatan plastik," kata dia.

Sebab itu dalam aksi ini, swlain mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan juga mendesak pemerintah untuk menerbitkan regulasi konkret agar upaya penyelamatan bumi berjalan lebih efektif.