Anak-Anak di Negara Lain Sibuk Kampanye Perubahan Iklim, Indonesia?

Ilustrasi perubahan iklim. - JIBI
13 September 2019 20:07 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Jaringan Masyarakat Peduli Iklim (Jampiklim DIY) menilai masyarakat kebanyakan, belum melihat perubahan iklim sebagai isu krusial untuk disoroti secara luas.

Koordinator Jampiklim DIY, Himawan Kurniadi mengungkapkan, hal itu bertolak belakang dengan anak-anak dan pelajar di belahan dunia lain, justru sudah masif mengampanyekan isu perubahan iklim. Menurut dia, inilah saatnya seharusnya pelajar di Indonesia, khususnya Jogja sudah bisa didorong bergerak ke arah yang sama.

"Masalah yang sangat perlu disoroti itu energi dan sampah. Kita masih disupply dengan energi berbahan fosil. Selain itu, kami melihat ada ketidakseriusan dalam mengelola sampah," ungkapnya, dalam Diskusi Publik Menyikapi Perubahan Iklim di Indonesia, di Convention Hall Lantai II, Kompleks Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka), Jumat (13/9/2019).

Ia menambahkan, dalam konteks Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sektor pariwisata adalah sektor yang paling perlu diamati. Mengingat arah pertumbuhan wilayah ini sudah diarahkan ke industri pariwisata. Kalau potensi tidak dikelola secara hati-hati, maka bisa memberi dampak kerusakan lingkungan.

"Semakin dibukanya keran pariwisata, konsekuensi banyak muncul hotel. Maka kebutuhan asupan energi otomatis meluas, begitu juga air dan timbulan sampah," kata dia, di sela kegiatan yang terselenggara atas kerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Suka itu.

Ia mengaku mengapresiasi sejumlah gerakan pengurangan penggunaan plastik, daur ulang penggunaan air dan lainnya. Di satu sisi, kondisi itu menunjukkan dengan jelas bahwa persoalan perubahan iklim bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak saja. Melainkan peranan lintas sektor.

Kegiatan diskusi publik kali ini menyasar pelajar dan mahasiswa agar kalangan tersebut sadar soal iklim keberlanjutan.

"Kita [segenap pihak] tentunya tak ingin mewariskan kerusakan lingkungan dan perilaku negatif merusak lingkungan di masa depan, mereka [generasi muda] bisa kami ajak sedari sekarang," ucapnya.

Dosen Prodi Pendidikan Biologi UIN Suka, Eka Sulistyowati menyebutkan, persoalan sampah masih terus menjadi momok masyarakat saat ini. tugas generasi yang hidup di masa sekarang adalah membantu menciptakan situasi lebih baik adalah mengelola sampah.

Menurut dia, langkah 3R reduce, reuse, recycle plastik dan sampah yang bisa didaur ulang, masih menjadi jurus ampuh dalam mengurangi timbunan sampah di tengah lingkungan tempat tinggal. Langkah itu juga akan lebih baik bila dimulai dijalankan oleh diri sendiri.

"Tapi menurut saya, poin reduce memegang poin terbaik. Kalau perlu, gerakan mengurangi sampah plastik itu sebutannya malah 4R, yaitu reduce, reduce, reduce, rasah nganggo [plastik]," tuturnya.