Anggaran Dropping Air BPBD Gunungkidul Makin Menipis
Anggaran dropping air BPBD Gunungkidul diprediksi habis September. Pemkab menyiapkan opsi tambahan melalui anggaran BTT.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih saat berdialog dengan warga terdampak banjir dan longsor di Padukuhan Jono, Tancep, Rabu (18/2/2026). - Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih meminta satu keluarga korban longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, direlokasi ke lokasi yang lebih aman setelah wilayah tersebut kembali terdampak bencana. Hal ini ditegaskan saat peninjauan lokasi banjir dan longsor pada Rabu (18/2/2026) sebagai langkah mitigasi risiko longsor di kawasan rawan.
Dalam kunjungan tersebut, Bupati menyoroti kondisi geografis wilayah yang telah dipantau selama sekitar sepuluh tahun karena memiliki potensi longsor tinggi, sehingga relokasi dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk keselamatan warga.
“Wilayah ini sudah dipantau dalam sepuluh tahun terakhir karena berpotensi longsor. Makanya, untuk keamanan, saya minta agar satu keluarga yang ada di lokasi tertinggi mau dipindah ke tempat yang aman,” katanya, Rabu siang.
Menurut Endah, relokasi merupakan upaya pemerintah daerah untuk menjamin keamanan warga dari ancaman bencana longsor di masa mendatang. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga siap menyediakan lahan sekaligus membangun hunian baru bagi keluarga terdampak.
Ia menambahkan, berdasarkan koordinasi dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X, lahan berstatus sultan ground (SG) dapat dimanfaatkan sebagai lokasi relokasi. Selain itu, tanah kas desa juga memungkinkan digunakan bagi keluarga kurang mampu yang terdampak bencana melalui mekanisme pengajuan izin oleh pemerintah kalurahan kepada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Bisa tanah kas desa untuk keluarga kurang mampu yang terdampak bencana. Caranya adalah pemerintah kalurahan mengajukan izin ke Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat,” katanya.
Meski demikian, Endah mengakui proses relokasi tidak mudah karena keluarga terdampak telah menempati lokasi tersebut selama puluhan tahun, sehingga diperlukan pendekatan edukasi dan komunikasi agar warga bersedia pindah ke tempat yang lebih aman.
“Pasti akan berat meninggalkan tahan yang sudah puluhan tahun ditempati. Tapi, ini berkaitan dengan keselamatan nyawa, maka penting untuk disampaikan ke korban terdampak,” katanya.
Sementara itu, korban longsor di Padukuhan Jono, Suratmi, mengaku seusai kejadian dirinya mengungsi ke rumah saudara yang lebih aman. Pada Rabu pagi, ia bersama warga lain dibantu relawan serta anggota TNI dan Polri melakukan kerja bakti membersihkan rumah yang terdampak banjir dan longsor.
“Saya juga mengambil barang-barang berharga yang dimiliki biar disimpan di tempat yang aman,” katanya.
Terkait dengan imbauan relokasi dari Bupati Gunungkidul, Suratmi mengaku dirinya bersama empat anggota keluarga lainnya belum dapat memberikan keputusan. Mereka masih mempertimbangkan berbagai hal sebelum memutuskan pindah dari lokasi yang selama ini ditempati, meskipun wilayah tersebut masuk zona rawan longsor yang membutuhkan penanganan mitigasi jangka panjang dari pemerintah daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran dropping air BPBD Gunungkidul diprediksi habis September. Pemkab menyiapkan opsi tambahan melalui anggaran BTT.
Pansus DPRD DIY menilai pencegahan bunuh diri perlu menyasar warga yang menghadapi penyakit berkepanjangan dan tekanan ekonomi.
Bupati Sleman Harda Kiswaya mengajak masyarakat meramaikan pasar tradisional melalui Gempar di Pasar Godean.
Softex bersama Indomaret menghadirkan program Posyandu Remaja Softex dan Indomaret, sebuah inisiatif CSR yang akan menjangkau lebih dari 2.000 remaja putri
Jet tempur Sukhoi TNI AU tergelincir di Bandara Sultan Hasanuddin. Simak sejarah pembelian 11 unit Sukhoi SU-35 dari Rusia.
Pemerintah menyiapkan pemulihan Desa Adat Sade setelah kebakaran menghanguskan 167 bangunan dan benda warisan budaya Suku Sasak.