Advertisement
Dana Desa Rp200 Juta Disiapkan untuk Ketahanan Pangan Tirtohargo
Budi daya ikan air tawar. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, Bantul mengalokasikan sekitar Rp200 juta dari dana desa untuk program ketahanan pangan yang mencakup budi daya ikan air tawar, pengeringan gabah, dan peternakan kambing. Hal ini ditegaskan sebagai upaya memperkuat kemandirian pangan masyarakat di wilayah pesisir selatan Bantul.
Program tersebut sekaligus menjadi langkah menghidupkan kembali usaha desa yang sempat tidak optimal, terutama sektor perikanan yang sebelumnya dikelola Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal). Pemerintah kalurahan menilai potensi perikanan masih besar jika strategi pengelolaannya diperbarui.
Advertisement
Lurah Tirtohargo, Sugianto, menjelaskan salah satu fokus program ketahanan pangan adalah melanjutkan lini usaha budi daya ikan lele yang sempat berhenti beberapa tahun terakhir. Usaha tersebut sebenarnya sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu, tetapi pada 2023–2024 hasilnya dinilai belum maksimal.
“Secara hitung-hitungan tidak rugi besar, tapi hasilnya tipis sekali. Setelah beli pakan dan bayar honor pemelihara, sisa per panen hanya sekitar Rp300.000 dari 50 kolam,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
BACA JUGA
Menurut Sugianto, untuk pengelolaan tahap berikutnya pemerintah kalurahan telah berkonsultasi dengan Dinas Perikanan Kabupaten Bantul guna mengubah strategi budi daya. Jika sebelumnya berfokus pada lele, tahun ini akan dilakukan uji coba pemeliharaan ikan gurame dan nila dengan harapan hasil produksi lebih optimal.
Sebanyak 50 kolam disiapkan untuk budi daya nila dan gurame, termasuk pembaruan sarana kolam dengan penggantian terpal yang telah digunakan selama sekitar lima hingga enam tahun. Program ini direncanakan mulai berjalan pada musim kemarau sekitar April hingga Mei mendatang.
"Kami rencanakan dimulai pada musim kemarau, sekitar April–Mei mendatang," jelasnya.
Program budi daya ikan tersebut merupakan bagian dari ketahanan pangan yang bersumber dari 20 persen dana desa. Total anggaran ketahanan pangan di Tirtohargo mencapai sekitar Rp200 juta, termasuk program pengeringan gabah serta peternakan kambing yang juga dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat.
“Perikanan tetap kami lanjutkan. Harapannya dengan jenis yang baru ini hasilnya lebih optimal,” kata Sugianto.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko Waluyo, menyampaikan program ketahanan pangan tidak hanya didorong di tingkat kalurahan tetapi juga rumah tangga. Masyarakat diimbau memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam tanaman hortikultura guna memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Ia menyarankan warga menanam cabai, terong, maupun sayuran menggunakan metode hidroponik sederhana dengan memanfaatkan galon bekas air mineral ukuran 15 atau 19 liter sebagai media tanam. Upaya ini dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar.
“Pemanfaatan pekarangan dengan hortikultura bisa menjadi penopang kebutuhan pangan keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan pasar,” ujarnya.
Pengembangan program ketahanan pangan di tingkat desa hingga rumah tangga diharapkan dapat meningkatkan kemandirian pangan masyarakat Bantul, sekaligus memperkuat ekonomi lokal melalui sektor perikanan, pertanian, dan peternakan yang terintegrasi dengan pemanfaatan potensi wilayah setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Hilal Awal Ramadhan 1447 H Dipastikan Tak Terlihat di DIY
- Dana Desa Dipangkas untuk KDMP, Lurah di Gunungkidul Hanya Bisa Pasrah
- Operasi Keselamatan Progo 2026 Mampu Tekan Pelanggaran dan Kecelakaan
- Puasa, Begini Skema Penyaluran MBG di Gunungkidul
- Dampak Hujan, BPBD Catat 32 Titik Longsor, Warga Terpaksa Mengungsi
Advertisement
Advertisement








