Merapi Keluarkan Awan Panas Pertama sejak Penerapan Status Waspada, Ini Sebabnya

Erupsi Merapi - Istimewa/PVMBG
22 September 2019 21:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Gunung Merapi memperlihatkan fenomena berbeda pada Minggu (22/9/2019) siang. Merapi mengeluarkan awan panas yang baru kali pertama terjadi sejak ditetapkan status waspada 21 Mei 2018 lalu.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja mencatat, awan panas letusan terekam di seismograf dengan amplitudo 70 mm dan durasi 125 detik. Jarak awan panas diperkirakan sejauh 1,2 km. “Terpantau dari CCTV Merbabu, kolom asap letusan setinggi kurang lebih 800 meter dari puncak,” kata Kepala BPPTKG Jogja Hanik Humaida.

Awan panas letusan tersebut menyebabkan terjadinya hujan abu tipis di sekitar Merapi dalam radius 15 km. Hujan abu tersebut dominan turun di sektor Barat Daya. Untuk mengantisipasi gangguan abu vulkanik terhadap penerbangan, katanya, BPPTKG mengeluarkan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan kode warna Orange. "Kami terbitkan NOVA," kata Hanik.

Dia menjelaskan, berbeda dengan awan panas guguran (APG) yang biasa terjadi sejak tanggal 29 Januari 2019, awan panas kali ini didahului dengan letusan gas sehingga disebut sebagai awan panas letusan (APL). Menurut Hanik, APG disebabkan oleh runtuhnya material kubah lava baru secara gravitasional atau tanpa kecepatan awal yang signifikan. Sedangkan pada APL, runtuhnya material kubah lava akibat dari tekanan gas dari dalam.

"Ini terjadi seiring dengan berlangsungnya suplai magma, gas vulkanik diproduksi secara kontinyu. Karena dinamika tekanan, gas dapat tersumbat dan terakumulasi di bawah kubah lava dan terlepas secara tiba-tiba, mendobrak kubah lava sehingga runtuh menjadi awan panas," papar Hanik.

Peningkatan tekanan gas ini, sambungnya, terdeteksi oleh stasiun pemantauan. Di mana sejak pukul 00:00 sampai dengan pukul 12:00 terjadi 29 kali gempa MP dan 14 kali gempa hembusan. "Jumlah gempa MP dan hembusan ini tergolong tinggi yang merepresentasikan peningkatan tekanan dan intensitas pelepasan gas vulkanik," katanya.

Dia menjelaskan, oeningkatan tekanan terjadi konsisten dengan data pemantauan suhu kubah lava selama satu jam menjelang letusan yang menunjukkan adanya kenaikan suhu pada beberapa titik pada kubah lava sekitar 100o Celcius. "Data pemantauan menurun dan tenang kembali setelah kejadian APL sampai dengan saat ini," katanya.

Baik APG maupun APL, kata Hanik, keduanya masih akan terjadi, karena suplai magma masih berlangsung yang ditunjukkan oleh masih terjadinya gempa-gempa dari dalam seperti gempa VTA, VTB, dan MP dalam jumlah yang signifikan. Ancaman bahaya yang dapat ditimbulkan dari aktivitas erupsi saat ini, masih sama dengan sebelum-sebelumnya yaitu luncuran awan panas dan lontaran material erupsi di dalam radius tiga km dari puncak Merapi.

"Hasil pemodelan menunjukkan jika kubah lava saat ini (461.000 m3) runtuh, luncuran awanpanas tidak melebihi radius 3 km," katanya.

Akibat munculnya awan panas letusan tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan mengatakan abu tipis terpantau dari sisi Barat Tunggul Arum Wonokerto, Turi. "Abu sekarang sudah hilang diterpa angin. Kami akan terus memantau perkembangan, semua kondisi masih aman dan terkendali," kata Makwan.

Dijelaskan Makwan, berdasarkan pantauan di lapangan sebaran abu tipis terjadi di wilayah tunggul arum, mulai pukul 12.30 WIB hingga pukul 12.54 WIB masih berlangsung. Hal ini terjadi dikarenakan arah angin berubah arah dari timur laut ke barat laut. Meski begitu, katanya, kondisi warga tenang dan tidak terjadi kepanikan.

"Masih kondusif aman dan terkendali. Kebutuhan masker belum dibutuhkan, sementara stok masker di Tunggularum masih ada, bila dibutuhkan akan ditambah stok dari posko BPBD," katanya.

Sebelumnya, pada Jumat (20/9/2019) Merapi juga mengeluarkan awan panas guguran dengan jarak luncur 1,5 kilometer ke arah hulu Kali Gendol. Guguran awan panas saat itu terjadi pada pukul 17.48 WIB, memiliki amplitudo maksimum75 mm dengan durasi kurang lebih 150 detik.

Hingga kini, status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada masih dipertahankan. BPPTKG juga tidak merekomendasikan adanya kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.

BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi. Masyarakat juga diminta tidak terpancing isu-isu terkait erupsi Merapi yang tidak jelas sumbernya dan diminta mengikuti arahan aparat pemerintah.