Ratusan Sekolah di Gunungkidul Disetujui Direvitalisasi
Dinas Pendidikan Gunungkidul mencatat ada 131 sekolah yang mendapatkan bantuan perbaikan dari Pemerintah Pusat. Diharapkan dapat meingkatkan sarpras di sekolah.
Sebuah rambu-rambu peringatan agar pengendara kendaraan untuk mengurangi kecepatan dipasang di dekat proyek pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di Desa Nglindur, Kecamatan Girisubo, belum lama ini. /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Titik awal pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang menghubungkan Desa Girijati di Kecamatan Purwosari dengan Desa Girimulyo di Kecamatan Panggang bakal didesain ulang. Selain lebar jalan yang masih sempit, desain ulang dilakukan karena kondisi geografis yang naik turun dan banyak tikungan sehingga dapat membahayakan pengendara.
Kepala Seksi Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Wadiyana, mengatakan titik awal pembangunan JJLS di Gunungkidul dimulai dengan pembangunan jalan yang menghubungkan Desa Girimulyo dengan Girijati. Jalur penghubung ini berada di wilayah perbatasan dan pembangunanya telah selesai terlebih dahulu.
Meski di ruas ini JJLS telah terbangun, keberadaannya bukan tanpa masalah. Hal ini tidak lepas dari kondisi geografis yang naik turun dan dengan tikungan tajam sehingga sulit dilalui kendaraan besar. Menurut Wadiyana, Pemda DIY telah mengusulkan agar di titik awal ini dilakukan normalisasi dan pendesainan ulang. “Informasinya sudah diusulkan, tapi kami tidak tahu karena kewenangan bukan berada di Pemkab Gunungkidul,” kata Wadiyana, Sabtu (28/9/2019).
Dia menjelaskan Pemkab mendukung penuh upaya normalisasi JJLS yang berbatasan dengan Kabupaten Bantul. “Nantinya akan terhubung dengan jembatan Kelok 18 yang menghubungkan Gunungkidul dan Bantul. Jadi, normalisasi itu perlu sehingga akses jadi semakin lebih mudah,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala DPUPRKP Gunungkidul, Eddy Praptono. Menurut dia redesain dan normalisasi dibutuhkan tak hanya karena kondisi geografis yang ekstrem. Saat ini titik JJLS antara Girimulyo dan Legundi masih sempit karena lebarnya baru berkisar 17 meter hingga 18 meter.
Kondisi ini jelas berbeda dengan program JJLS yang dibangun saat ini yang lebarnya mencapai 30 meter hingga 40 meter. Menurut dia dengan perbedaan ruas antara yang lama dengan baru, maka harus dilakukan redesain sehingga lebar jalan bisa sepadan. “Ya tujuannya biar sama. Mosok ada yang jalannya lebar banget, tapi memasuki Desa Girimulyo menuju Girijati jalannya menyempit,” kata Eddy.
Menurut Eddy Praptono tahun ini ada dua titik pembangunan JJLS di Gunungkidul. Titik pertama pembangunan menghubungkan Jerukwudel-Baran, Karangduwet sepanjang 10,6 kilometer. Anggaran pembangunan di ruas ini mencapai Rp282,4 miliar, sedangkan ruas kedua pembangunan dilaksanakan di titik Legundi sampai Planjan sepanjang 4,7 kilometer. Adapun pembangunan ruas ini menelan biaya sekitar Rp96,09 miliar. “Saat ini masih dalam proses pengerjaan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Pendidikan Gunungkidul mencatat ada 131 sekolah yang mendapatkan bantuan perbaikan dari Pemerintah Pusat. Diharapkan dapat meingkatkan sarpras di sekolah.
Kebakaran rumah di Sragen diduga akibat korsleting listrik. Uang Rp50 juta dan dua sepeda gunung hangus, dua anggota keluarga jadi korban.
MBG di SMKN 2 Jogja dihentikan sementara setelah 413 warga sekolah diduga keracunan. Sampel makanan dan air masih diperiksa di laboratorium.
Kemenhaj mempertimbangkan maskapai alternatif untuk menekan biaya haji 2027. Biaya penerbangan mencapai 40% dari total BPIH.
Direktur BYAN Alastair McLeod menjual 185.200 saham senilai Rp2,47 miliar menjelang rencana masuknya Jhonlin Group sebagai pemegang 30% BYAN.
BMKG memprakirakan hujan ringan hingga lebat di sejumlah daerah Rabu. Gelombang hingga 4 meter juga berpotensi terjadi di sejumlah perairan.