Dinas Perdagangan Bantul Genjot Munculnya Eksportir Baru

Kepala Disdag Bantul Sukrisna Dwi Susanta (tiga dari kiri) saat berbicara dalam Pelatihan Manajemen Perdagangan Luar Negeri (MPLN) di aula Disdag Bantul, Senin (7/10). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
07 Oktober 2019 13:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Perdagangan (Disdag) Bantul terus berupaya menggenjot pertumbuhan eksportir baru. Para pelaku usaha diminta tidak ragu mengekspor produk secara mandiri dan tidak tergantung pada broker.

“Pengusaha yang biasa menitip ke perusahaan besar [mengekspor lewat broker] diharapkan bisa ekspor mandiri untuk meningkatkan pendapatan mereka,” kata Kepala Dinas Perdagangan Bantul, Sukrisna Dwi Susanta, saat membuka Pelatihan Manajemen Perdagangan Luar Negeri (MPLN) di aula Disdag Bantul, Senin (7/10/2019).

Dalam pelatihan itu ada 30 pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang jadi peserta. Dari total 30 orang itu, kebanyakan merupakan pelaku usaha dari sektor kerajinan.

Sukrisna mengatakan banyak pelaku UKM yang produknya sudah ekspor namun masih menitipkan pada perusahaan besar. Alasannya berbagai macam mulai dari belum percaya diri hingga syarat administrasi ekspor yang belum terpenuhi.

Itulah sebabnya, Pemkab berkewajiban mendorong tumbuhnya para eksportir baru, salah satunya melalui pelatihan untuk meningkatkan nilai ekspor dan memperluas jaringan pemasaran produk UKM Bantul. “Saat ini ada sekitar 70 perusahaan eksportir di Bantul. Sebagian besar produk yang diekspor adalah kerajinan kayu, mebeler, kerajinan rotan, tas, tembaga, dan keramik,” ucap dia.

Berdasarkan data Disdag Bantul, nilai ekspor dari Bantul dari tahun ke tahun terus meningkat. Bahkan tahun lalu peningkatan nilai ekspor cukup signifikan, yakni mencapai US$206,5 juta atau setara Rp2,9 triliun dengan volume ekspor mencapai 32,4 juta kilogram.

Terkait dengan sasaran ekspor produk pada tahun lalu, Sukrisna mengatakan ada sekitar 85 negara, dengan dominasi pengiriman ke ke Belanda, Italia, Jerman, dan Prancis.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan, Dinas Perdagangan Bantul, Agus Riyadmadi mengatakan meski nilai ekspor terus meningkat dan volume ekspor juga meningkat, namun pertumbuhan eksportir baru belum signifikan. “Artinya banyak produk pelaku usaha kecil dan menengah yang diekspor melalui perusahaan besar. Ini yang masih menitipkan kami arahkan agar mandiri,” kata Agus.

Untuk mengatasi berbagai hambatan yang dialami para pelaku usaha dalam pengeksporan produk, dinasnya menghadirkan sejumlah narasumber yang berkaitan dengan manajemen perdagangan luar negeri, di antaranya Theresia Sumartini dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY; Joko Santoso dari Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean B DIY; Agus Nugroho dari KPP Pratama); dan Lestari Widodo dari Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Rakyat Indonesia (APIKRI).

Marketing APIKRI Lestari Widodo mengatakan pelaku usaha harus bisa menempatkan posisinya, antara produsen, broker, atau trader. Posisi tersebut, kata Widodo, berpengaruh pada penentuan harga produk. “Era keterbukaan saat ini kepastian harga menjadi mutlak, harus transparan,” kata dia.