Yogyakarta Comic Weeks, Bukti Eksistensi Komik Lokal

Salah satu komik yang dipamerkan di Yogyakarta Komik Weeks 2019 di Museum Sonobudoyo, Selasa (8/10/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
08 Oktober 2019 18:57 WIB Rofik Syarif G.P Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kebudayaan Provinsi DIY bersama Kelompok Komikus Yogyakarta Mulyakarya menggelar pameran komik bertajuk Yogyakarta Comic Weeks 2019. Dalam acara yang digelar di Museum Sonobudoyo selama dua pekan, mulai Selasa (8/10/2019) sampai Senin (21/10/2019) tersebut menampilkan komik-komik karya komikus, baik dari Jogja maupun nasional.

Kabid Pelestarian Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya dan Seni Dinas Kebudayaan DIY Eni Lestari Rahayu mengatakan pameran tersebut digelar untuk memberikan apresiasi terhadap kreativitas anak muda dalam berkarya, khususnya komik.“Komik bisa jadi ekspresi dalam merespons dan menyampaikan gagasan dengan berbahasa kultur dalam bentuk gambar yang mudah dipahami,” ucap dia di sela-sela pembukaan Yogyakarta Comic Weeks, Selasa.

Dia juga berharap pameran itu bisa jadi simbol menggeliatnya iklim kesenian di Jogja. Dengan begitu nantinya bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.

Seniman asal Jogja, Yudha Sandy yang juga pendiri Mulyakarya mengatakan pameran komik tersebut merupakan pameran komik pertama di Jogja. Kegiatan itu, kata dia, diawali dengan acara lokakarya komik untuk pelajar SMA/SMK se-DIY yang sudah digelar pada 20-22 Agustus lalu.

Dalam workshop itu juga digelar lomba pembuatan komik oleh 100 peserta lokakarya, lalu dipilih 30 terbaik yang dipamerkan pada acara Yogyakarta Comic Weeks.

Selain 30 komik karya peserta workshop, dalam Yogyakarta Comic Weeks juga dipamerkan karya sejumlah komikus dari Tanah Air, bahkan ada beberapa komikus dari luar negeri. “Namun tetap, persentasenya, sekitar 80% dari komikus Jogja,” ujar dia.

Dalam Yogyakarta Comic Weeks, imbuh Yudha, dipamerkan pula komik karya komikus legendaris Harya Suraminata atau Hasmi dan Abdussalam. Hasmi merupakan komikus yang tenar dengan Gundala Putra Petir-nya, sedangkan Abdussalam populer dengan komik setrip bertajuk Kisah Pendudukan Jogja yang diterbitkan salah satu media massa lokal Jogja pada 1952. Melalui pameran ini, kami berharap “Tujuan dari acara ini adalah memberikan semangat dan memberikan inspirasi kepada masyarakat baik yang suka komik maupun yang tidak, agar yang tidak suka komik menjadi suka dengan komik,” ucap dia.

Tak hanya pameran komik, dalam Yogyakarta Comic Weeks, kata dia, juga digelar berbagai acara lain seperti pemutaran film, diskusi komik, peluncuran komik, lapak komik, drama komikal, dan Komik Kostum. “Kami juga menggelar bazar komik setiap Ssabtu dan Minggu selama dilangsungkannya Yogyakarta Comic Weeks,” ujar Yudha.