HARI SANTRI 2019: Ponpes Sunan Kalijaga Ajak Warga DIY Selawatan dan Doa Bersama

Salah satu adegan dalam drama kolosal yang ditampilkan di sela-sela apel Hari Santri Nasional di Lapangan Trirenggo, Bantul, Minggu (21/10/2018). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
16 Oktober 2019 18:27 WIB Nugroho Nurcahyo Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2019, Keluarga Besar Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan akan menggelar acara 1.000 Shalawat dan Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa, Kamis (17/10/19).

Acara akan digelar di Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan RT 05 Jaranan Panggungharjo Sewon Bantul. Tema yang diusung dalam acara tersebut adalah Mengkader Santri, Mencintai Demokrasi dan NKRI, dengan pembicara Kiai Heri Kuswanto (Pengasuh Ponpes Lintang Songo), Gus Fahmi (PW LPPNU DIY) dan Ustaz Jamiludin (Yayasan Kodama).

“Kami mengajak dan mengundang secara terbuka, kepada seluruh warga DIY untuk merayakan hari santri dengan 1.000 Sholawat dan Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa,” ujar Gus Beny melalui rilis yang diterima Harianjogja.com, Rabu (16/10/2019).

Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Gus Beny mengucapkan selamat bertugas kepada Presiden dan wakil presiden terpilih. Gus Beny mengajak seluruh masyarakat Indonesia mensyukuri terpilihnya Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih.

Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Prabowo dan Sandiaga Uno yang legowo denagn menunjukkan sikap kesatria. Proses demokrasi berjalan dengan baik. Bahkan mereka saling berkunjung, berjabat tangan sebagai bentuk sportifitas dan pendidikan politik yang baik,” ujar Gus Beny.

Sikap menerima hasil pemilu, dengan tanpa menghujat, mencaci dan menghasut kebencian, mengajak permusuhan, lanjut Gus Beny, merupakan cermin fatsun politik yang adiluhung dan syukur nikmat, bukan kufur.

Menurut Gus Beny, kufur nikmat di era demokratis dan bebas berekspresi saat ini antara lain  menyebar hoaks, ujaran kebencian, fitnah dan memecah belah persaudaraan, dan persatuan nasional.

Kebesaran, kemajuan bangsa dan negara dirajut atas persudaraan atas kemanusiaan (ukhuwah basyaariyah), kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) dan agama (ukhuwah islaamiyah). Tak akan pernah cukup hanya persaudaraan atas agama (ukhuwah islamiyah), karena pincang dan bengkok,” kata dia.