Penyebab Angin Kencang di Kawasan Merapi, BMKG dan BPPTKG Beda Pendapat, Ini Penjelasannya

Gunung Merapi mengeluarkan awan panas dan lava pijar pada Senin (18/2/2019) pagi. Kondisi tersebut terpantau dari daerah Bimomartani, Ngemplak, Sleman. - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
21 Oktober 2019 20:37 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Sejak Minggu (20/10/2019) malam kawasan Gunung Merapi dilanda angin kencang hingga mencapai 80 km/jam. Sejumlah bangunan dilaporkan rusak akibat peristiwa tersebut.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menduga, kondisi Merapi saat ini ikut memicu terjadinya angin kencang di lereng Merapi. Meski begitu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menepis hal tersebut dan menilai jika angin kencang yang terjadi di lereng Merapi tidak ada sangkut pautnya dengan kondisi Merapi saat ini.

Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Jogja, Sigit Hadi Prakosa, mengatakan angin kencang melanda di Kawasan Merapi baik di wilayah Kabupaten Magelang, Boyolali maupun Sleman pada Minggu (20/10/2019) hingga Senin (21/10/2019). Angin yang terjadi, kata Sigit, bersifat sangat lokal. Hal ini selain mengacu kepada konsentrasi wilayah kerusakan, kecepatan anginnya pun berbeda dengan dataran rendah lainnya.

Kecepatan angin di lereng Merapi, katanya, mencapai 80 km/jam (skala fujita) sedangkan pengukuran di Stasiun Klimatologi Mlati Jogja hanya 16 km/jam. "Kejadian di lereng Merapi di mana angin berhembus cukup kencang secara lokal. Angin berhembus lebih kencang di malam hari," katanya saat dihubungi Harianjogja.com, Senin (21/10/2019).

Sigit menjelaskan berdasarkan laporan BPBD Magelang terkait kejadian angin kencang disertai hujan berskala sedang hingga lebat melanda sekitar Gunung Merapi terjadi pukul 19.30 WIB pada Minggu malam. Bencana tersebut melanda di sejumlah kecamatan mulai Pakis, Sawangan, Ngablak, dan Kajoran Kabupaten Magelang. Dampaknya, sejumlah atap rumah berterbangan dan pohon tumbang yang berakibat tertutupnya akses jalan.

Angin kencang terjadi lagi pada Senin pukul 10.00 WIB di Kecamatan Selo Boyolali, Kecamatan Dukun Magelang dan di wilayahereng sebelah barat-barat daya dan tenggara Merapi. Kondisi ini berdampak pada munculnya debu tebal hingga menutupi pandangan mata.

Sigit menjelaskan, ada dugaan peningkatan aktivitas Merapi turut andil memicu kejadian bencana lokal angin kencang ini. Peningkatan aktivitas Merapi berupa Erupsi awan panas pada tanggal 14 Oktober diikuti guguran lava pada tanggal 15 Oktober 2019 telah menyebabkan peningkatan suhu permukaan di Kawasan Puncak Merapi sehingga tekanan udara di wilayah ini menjadi cukup rendah.

"Dalam skala tertentu, tekanan udara permukaan berbanding terbalik dengan suhu udara permukaan. Suhu yang lebih panas akibat erupsi Merapi dan guguran lava yang terjadi dalam waktu yang cukup lama, kata Sigit, akan menurunkan tekanan udara permukaan sehingga udara mengalir ke wilayah dengan suhu lebih panas tersebut.

"Kejadian hujan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang pada Minggu malam 20 Oktober 2019 dipicu oleh anomali aliran angin lembah [angin mengalir dari lembah ke arah gunung] yang membawa udara dingin dan lembab sehingga terjadi kondensasi dan terbentuk awan Cumulonimbus (Cb) di lereng pegunungan," paparnya.

Angin lembah, lanjut Sigit, biasanya terjadi siang hari saat bagian dataran mendapat pemanasan matahari yang cukup. Kondisi berbeda terjadi di areal pegunungan, dimana secara umum puncak gunung suhu udara permukaan biasanya lebih dingin di bandingkan daerah di lereng. "Dampaknya, sirkulasi udara lokal cenderung bergerak turun (angin gunung)," katanya.

Saat kondisi di bagian atas gunung lebih panas maka sirkulasi lokal itu dapat berbalik sehingga menyebabkan angin lembah (dari atas ke bawah) menjadi lebih kuat dari biasanya. Pada topografi tertentu, hal ini dipengaruhi bentuk lereng dan permukaan pegunungan, angin lembah itu dapat membentuk pusaran-pusaran angin pada area dan skala yang lebih kecil.

"Kondisi ini seperti yang terjadi di Kecamatan Selo Boyolali pada Senin pagi," katanya.

Kepala Stasiun Klimatiogi Mlati BMKG Jogja Reni Kraningtyas berharap atas peristiwa tersebut masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. "Kami harap masyarakat tetap waspada dan mengikuti informasi terupdate dari BMKG," katanya.

Berbeda dengan BMKG, BPPTKG Jogja mencatat angin kencang di lereng Gunung Merapi dan sekitarnya terjadi selama tiga hari. Sejak Sabtu (19/10/2019) hingga Senin (21/10/2019). BPPTKG mencatat kecepatan angin mencapai hingga 86,5 km/jam.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja Hanik Humaida, mengatakan berdasarkan pantauan stasiun cuaca di Pasarbubar, Gunung Merapi angin kencang tercatat sejak Sabtu (19/10/2019) pekan lalu. Kecepatan angin berangsur turun pada Senin (21/10/2019). "Kecepatan angin maksimum tercatat hingga 85.5 km/jam. Saat ini kecepatan angin menunjukkan tren menurun. kecepatan angin hanya 44 km/jam mengarah ke Barat Laut," kata Hanik, Senin (21/10/2019).

Menurut Hanik, dampak dari angin kencang tersebut menyebabkan sejumlah pohon tumbang dan atap rumah yang beterbangan di sekitar Merapi seperti di Desa Ketundan, Pogalan, Kenalan, Wonolelo, dan sekitarnya.

"Rekaman seismik menunjukkan nilai saturasi yang disebabkan oleh angin. Stasiun seismik di Gunung Merbabu juga merekam aktivitas angin ini. Angin kencang yang terjadi tidak ada kaitannya dan tidak berpengaruh terhadap aktivitas Gunung Merapi," kata Hanik.