Komposit Serat Alam Jadi Bahan untuk Hasilkan Energi Terbarukan

Guru Besar ilmu lingkungan IST Akprind Yogyakarta Profesor Sudarsono. - Ist Akprind.
08 November 2019 17:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Komposit serat alam berupa rami dan sengon laut menjadi bahan yang sangat efektif untuk pembuatan sudu kincir angin dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Upaya menghasilkan energi melalui Sistem Konversi Energi Angin (SKEA) ini bisa mengurangi efek gas rumah kaca.

Seorang dosen Institut Sains Teknologi (IST) Akprind Yogyakarta, Profesor Sudarsono berhasil meraih gelar tertinggi akademik, berupa guru besar setelah banyak melakukan penelitian ilmiah terkait energi terbarukan. Temuan komposit alam seperti rami yang merupakan tumbuhan semak serta sengon laut sebagai bahan sudu kincir angin ini menjadi salah satu kajiannya. Sudarsono telah dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu lingkungan pada 31 Oktober 2019 di Kampus IST Akprind Yogyakarta.

“Peningkatan konsumsi energi primer akan berdampak terhadap penyediaan energi dan emisi gas rumah kaca. Jika keadaan ini tidak segera diatasi maka emisi gas rumah kaca semakin meningkat. Salah satu upaya dalam mitigasi gas rumah kaca adalah pembangunan pembangkit listrik rendah karbon dengan sistem konversi energi baru terbarukan,” terangnya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Kamis (7/11/2019).

Ia menambahkan, sesuai Perpres No22/2017, pemerintah telah menyusun rencana umum energi nasional dengan program pelaksanaan pemasangan turbin skala besar dan skala kecil untuk memperluas akses ke area terpencil, wilayah perbatasan dan pulau pulau kecil. Pada 2019, SKEA (Sistem Konversi Energi Angin) kapasitas 75 MW telah dipasang di Sidrap (Sidenreng Rappang), Sulawesi Selatan. Namun, dari keseluruhan potensi energi angin di Indonesia, baru sekitar 1,035 GW atau 1,7% yang telah dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

Menurut dia, kecilnya kapasitas SKEA dan lambatnya penyebaran disebabkan karena komponen SKEA yang masih impor dan efisiensi konversi energi yang rendah. Oleh karena itu, pihaknya mengusulkan pemanfaatan energi angin ini menggunakan sumber alam lokal yang ada di Indonesia untuk pembuatan komponen SKEA, salah satunya adalah sudu kincir angin dengan bahan komposit serat alam. Pemanfaatan serat alam lokal seperti komposit serat rami dan kayu sengon laut bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan sudu kincir angin.

“Dari kajian yang kami lakukan, komposit dibuat memiliki kekuatan dan kekakuan yang tinggi, densitas [kerapatan] rendah, tahan korosi, kekuatan lelah tinggi, dan mudah dibentuk. Sifat yang dimiliki oleh bahan komposit tersebut memiliki keunggulan sehingga cocok digunakan sebagai bahan baku pembuatan sudu kincir angin, khususnya untuk pemasangan di pesisir pantai,” kata alumnus Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini.

Ia menambahkan, energi angin merupakan energi yang berkelanjutan karena tersedia di alam dalam waktu yang panjang sehingga tidak perlu khawatir akan kehabisan. SKEA mempunyai keuntungan sebagai energi alternatif yang bisa menggantikan bahan bakar fosil, merupakan sumber energi yang ramah lingkungan, bebas polusi, serta tidak menghasilkan gas rumah kaca dan tidak menghasilkan limbah beracun.

“Energi baru terbarukan merupakan bagian yang sangat penting dalam pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca secara nasional dan global dalam penurunan emisi. Ini selaras dengan tiga pilar penting upaya penurunan emisi, yaitu pengalihan subsidi BBM ke sektor produktif, penggunaan sumber energi terbarukan hingga 23 persen pada tahun 2025 dan pengolahan sampah menjadi sumber energy,” katanya.