Indahnya Toleransi, Warga Katolik Amankan Salat Iduladha di DIY
Relawan Katolik membantu pengamanan Salat Iduladha 1447 H di Bantul, Sleman, dan Kulonprogo sebagai simbol toleransi lintas iman di DIY.
Bayangan Matahari yang rusak seperempat terlihat dari pantulan lensa teleskop milik para pengamat dari Jogja Astro Club di Halaman Masjid Gedhe Kauman, Kamis (26/12/2019)./Harian Jogja-Sunartono.
Harianjogja.com, JOGJA—Matahari terlihat rusak seperempat karena tertutup bulan dalam gerhana Matahari cincin yang terpantau di Kota Jogja, Kamis (26/12/2019). Namun penglihatan fenomena tersebut dengan alat bantu sempat terhalang mendung.
Pengurus Bagian Litbang Jogja Astro Club (JAC) Agung Satriyo menjelaskan sebenarnya dari perkiraan BMKG, wilayah Jogja memang mendung, namun sekitar pukul 11.00 WIB hingga 12.00 WIB matahari bisa terlihat jelas dan tidak tertutup mendung. Sehingga kondisi gerhana matahari bisa terpantau menggunakan alat bantu dan tampak rusak seperempat.
“Ini kebetulan dapatnya bagus, dari Jogja lumayan kelihatan bulannya lumayan tampak menutup matahari meski pun hanya sekitar seperempat [tertutupnya atau fenomena rusaknya matahari],” katanya, Kamis.
Dalam pengamatan itu kelompoknya mengerahkan tujuh teleskop yang digunakan untuk pengamatan fenomena alam tersebut. Masing-masing sebanyak dua unit di halaman Masjid Gedhe Kauman dan lima unit di Alun-Alun Utara Kota Jogja.
Masyarakat yang kebetulan berada di kawasan itu bisa melihat gerhana menggunakan teleskop milik JAC secara gratis. Selain teleskop, JAC juga menyiapkan sejumlah alat bantu lain seperti kamera lubang jarum atau dikenal pinhole serta kacamata filter matahari dalam bentuk lebih sederhana yang dibuat dari kertas klise atau negatif film. “Masyarakat banyak yang menggunakan dari kacamata filter ini tetapi bentuknya memang kecil, kalau teleskop bentuk gerhana [Matahari] kelihatan agak besar. Kacamata ini dari bahan klise kami potong sesuai ukuran,” ucapnya.
Ketua JAC Agung Laksana menambahkan pengamatan itu dilakukan sekaligus mengedukasi masyarakat terkait dengan fenomena gerhana, terutama bagaimana proses melihat gerhana Matahari yang tepat.
Adapun pengamatan dilakukan dari 10.56 WIB sampai dengan 14.28 WIB. Menurutnya sangat tepat masyarakat memanfaatkan momentum langka tersebut karena tidak setiap tahun bisa terlewati gerhana matahari.
“Karena lokasi pengamatan di pusat kota jadi antusias masyarakat untuk menyaksikan gerhana Matahari dengan alat ini sangat banyak, ini fenomena langka juga jadi sangat banyak yang penasaran untuk melihat. Sekaligus sebagai pembelajaran juga untuk masyarakat, gerhana Matahari ini setiap tahun bisa terjadi tetapi tempatnya bisa di Indonesia atau tempat lain,” katanya.
Dia menambahkan gerhana Matahari cincin di wilayah DIY, kontak pertama terjadi sekitar pukul 10.56 WIB, kemudian puncaknya pada 12.47 WIB dan kontak terakhir pada 14.28 WIB. “Gerhana matahari dia 2019 ini pernah juga terjadi pada 5 -6 Januari lalu berupa gerhana Matahari sebagian yang dapat diamati di Asia Timur dan Pasifik Utara, pada 2 Juli juga terjadi gerhana matahari total terlihat di Samudera Pasifik dan bisa diamati di Amerika Latin,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Relawan Katolik membantu pengamanan Salat Iduladha 1447 H di Bantul, Sleman, dan Kulonprogo sebagai simbol toleransi lintas iman di DIY.
Pemerintah mencoret CV, firma, dan PT umum dari penerima PPh Final UMKM 0,5% untuk menutup celah penghindaran pajak.
Lansia asal Karanganyar kehilangan Rp104 juta setelah dijanjikan berangkat haji tanpa antre. Kasus dugaan penipuan dilaporkan ke Polresta Solo.
Dua jemaah haji asal Sleman meninggal dunia pada musim haji 2026. Satu wafat saat pemberangkatan, satu lagi meninggal di Jeddah, Arab Saudi.
Harga telur ayam ras di Magetan anjlok. BGN mewajibkan SPPG membeli langsung dari peternak untuk menjaga harga tetap ekonomis.
Lebih dari 1.000 anak mengikuti Lomba Mewarnai Anak Indonesia Hebat di Sleman City Hall bersama Indomaret, SGM, dan Na Willa.