Sang Indonesia Pentaskan Puisi Sindhunata di Omah Petroek

Salah satu adegan pementasan dalam Kejujuran dalam Air Kata-kata yang digelar di Taman Yakopan Oemah Petroek, Wonorejo, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Sabtu (1/2/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
02 Februari 2020 21:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Komunitas Seni dan Budaya Sang Indonesia menggelar Panggung Sastra Pertunjukan dan Bincang Karya bertajuk Kejujuran dalam Air Kata-kata. Bertempat di Taman Yakopan Oemah Petroek, Wonorejo, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Sabtu (1/2/2020), acara tersebut menampilkan sejumlah seniman muda dari Jogja, mulai dari aktor teater, musisi, penari, dan sastrawan.

Beberapa seniman yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini adalah Muhammad Shodiq Sudarti, Paknyang Kutai, Guntur Nur Puspito, Asita Kaladewa, Kinanti Sekar, Khocil Birawa, Kidjing and The Black Mamba, Mathori Briliyan.

Ketua Sang Indonesia dan juga selaku sutradara pertunjukan, Muhammad Shodiq Sudarti mengungkapkan sebagai sebuah komunitas yang digawangi anak-anak muda, kehadiran Sang Indonesia diharapkan mampu menawarkan semangat yang segar dalam berkesenian.

Selain itu, Sang Indonesia berupaya menempatkan kesenian bukan hanya sebagai sebuah jalan untuk berekspresi bebas tanpa visi kebudayaan apa pun. "Kesenian akan menjadi sebuah pergerakan sosial andai mampu mengungkap kondisi masyarakat dan menyampaikan gagasan yang bisa membangun kebudayaan masyarakat yang utuh," ujar Shodiq, Minggu (2/2/2020).

Sang Indonesia, kata dia, meyakini pergerakan kesenian dan sastra harus hadir sebagai refleksi sebuah zaman. Oleh karena itu, pembaruan dalam karya sastra adalah hal mutlak. Sebab, sastra sebagai ekspresi kebudayaan harus mampu disampaikan dengan cara-cara yang bisa ditangkap oleh zaman. "Dengan demikian, jarak antara sastra dengan masyarakat dapat dipangkas, sehingga sastra mampu hadir untuk membangun kebahagiaan antarmasyarakat," ucap dia.

Pertunjukan ini, lanjut Shodiq, berangkat dari dua buku antologi puisi dan seni rupa yang disusun dan ditulis oleh Sindhunata berjudul Air Kejujuran dan Air Kata-Kata. Teks puisi tersebut dipilih karena dianggap relevan dengan nilai-nilai yang diusung Sang Indonesia maupun kondisi sosikultural masyarakat saat ini. “Teks puisi karya Sindhunata kemudian dialihwahanakan ke dalam berbagai bentuk seni pertunjukan,” ucap dia.

Menurut Shodiq, puisi yang kental dengan spirit lokalitas dan imajinasi visual tersebut menarik untuk dituangkan di atas panggung pertunjukan.

 Pijakan Gagasan

Sang Indonesia meyakini seni pertunjukan yang menarik harus berangkat dari pijakan gagasan yang kokoh. Seni pertunjukan tak hanya hadir sebagai hiburan bagi publik, tetapi juga musti menciptakan percikan-percikan kegelisahan di benak penikmatnya. "Selain itu, kami berharap sastra mampu menjadi pertemuan-pertemuan dengan kesenian lain. Bagi kami, upaya ini akan memberi alternatif dalam mengembangkan sastra di kalangan masyarakat," kata dia.

Berangkat dari semangat tersebut, acara ini diawali dengan diskusi karya. Dengan tajuk Bincang Karya, Shodiq dan kawan-kawan ingin menciptakan ruang alternatif untuk bertukar gagasan dan memantik daya kritis masyarakat terhadap karya sastra dan konsep perkembangan karya sastra melalui seni pertunjukan.

Salah satu penonton, Hari, mengatakan aksi yang dimainkan oleh para pelaku seni dan budaya dari Sang Indonesia ibarat oase baginya. Pasalnya, ia jarang menemukan agenda kesenian maupun kebudayaan di Kota Jogja yang notabene merupakan kota pendidikan dan budaya. "Semoga SANG Indonesia mampu terus berkarya di tengah kemaraunya pertujukan seni dan budaya di kalangan pemuda," kata dia.