Ini Kekeliruan yang Menyebabkan Underpass di Kulonprogo Berubah Jadi Kolam Renang Hingga Tewaskan 2 Remaja

Kereta melintas di atas Underpass Kulur, Kulonprogo, yang berubah menjadi kolam dan menewakan dua remaja pada Sabtu (22/2/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
24 Februari 2020 18:27 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Underpass Kulur di ruas jalan Siluwok-Klepu, Dusun Polodadi, Kalurahan Kulur, Kapanewon Temon, Kulonprogo, butuh penamgangan segera. Terowongan yang berfungsi sebagai jalan di bawah perlintasan kereta api tersebut berubah menjadi kolam saat musim hujan dan sudah menewaskan dua remaja yang tenggelam karena tak bisa berenang.

Bupati Kulonprogo Sutedjo mengharapkan ada penanganan permanen terhadap terowongan tersebut sehingga dapat berfungsi dengan semestinya. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo telah mengirim surat kepada Gubernur DIY Sri Sultan HB X dengan tembusan ke Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY serta Bappeda DIY. Pemkab menginginkan infrastuktur milik Pemda DIY tersebut segera diperbaiki.

Selama ini, genangan air di Underpass Kulur hanya disedot dengan pompa dan cara itu tak banyak berguna.

“Kalau hanya dipompa [airnya] itu hanya temporer, hanya seperti pemadam kebakaran,” kata Sutedjo di Wates, Senin (24/2/2020).

Menurutnya, kapasitas dua pompa di Underpass Kulur relatif kecil. Sementara, tidak adan saluran pembuangan di terowongan itu. Padahal, air yang menggenang di underpass tak hanya berasal dari hujan deras yang turun di musim hujan, tetapi juga rembesan air tanah dari bawah terowongan.

“Dasar underpass harus ada saluran pembuangan, setahu saya saat ini tidak ada. Hari ini kami pompa kembali meski untuk mengeringkan sama sekali itu kurang maksimal, dari petugas PU mengatakan butuh 10 hari untuk menyurutkan air,” kata dia.

Sutedjo mengatakan Pemkab akan menempatkan pompa tambahan milik Dinas Pertanian dan Pangan supaya penyedotan bisa lebih maksimal. Pagar di sekeliling Underpass Kulur juga akan dibuat, lengkap dengan tulisan larangan supaya masyarakat berpikir dua kali untuk bermain-main di sekitar underpass.

Sabtu (22/2/2020) pekan lalu, dua remaja meninggal dunia karena tak bisa berenang di air yang menggenangi underpass hingga sedalam empat meter tersebut. Selama musim hujan, saat hari cerah, terowongan yang sudah menjadi kolam renang dipakai beberapa warga untuk berwisata.