Pesan Didik Nini Thowok untuk Generasi Muda

Didik Nini Thowok/Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo \\n
12 Maret 2020 14:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Maestro tari keturunan Tionghoa Indonesia, Didik Nini Thowok mengingatkan generasi muda untuk belajar sejarah. Dari sejarah, menurutnya orang akan menghargai suatu hal. 

Didik Hadiprayitno atau yang lebih dikenal dengan Didik Nini Thowok, dan memiliki nama lahir Kwee Tjoen Lian dan Kwee Tjoen An mengingatkan pada generasi muda mengingat sejarah, dengan begitu aka nada rasa menghargai. Secara sederhana, sebuah charger. Jika melihat sebuah charger mungkin hal biasa, tetapi ketika tahu sejarah pemilik siapa, dan ternyata orang besar, jadi tidak menyepelekkan barang tersebut. “Harus tahu dan belajar sejarah. Jadi harus tahu anak muda akulturasi Tionghoa di Indonesia juga. Orang Tionghoa di Indonesia bukan orang Tionghoa yang di Tiongkok,” kata Didik, Rabu (11/3).

Meski sebagai warga keturunan Tionghoa terkadang ada diskriminasi, dan dibeda-bedakan, tetapi Didik mengatakan sebenarnya Indonesia memiliki ideologi yang bagus. Adanya Pancasila, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, menurutnya melalui proses pemikiran yang panjang, dan akulturasi yang ada di Indonesia sudah sangat lama. Didik juga mengingatkan untuk tidak lupa identitas bangsa Indonesia. Tidak melupakan budaya sejarah yang dimiliki menjadi kunci menjaga identitas menurutnya. 

Perjalanan Karier

Menjadi maestro tari saat ini, tidak membuat Didik jemawa. Ia mengingat sejarah awal bagaimana ia berproses hingga menjadi penari kondang. Diceritakan pria kelahiran Temanggung 13 November 1954 tersebut stereotip bahwa masyarkat Tionghoa itu ke bisnis, tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, ada sejumlah orang yang berkesenian.

Didik sebenarnya tidak memiliki darah seniman langsung dari orang tua. Namun, ia sedari kecil sering diajak kakeknya yang menggemari wayang hingga ketoprak. Tidak terasa dari situ, jiwa-jiwa seni mulai tertanam pada Didik. Selain itu Didik juga sering tampil di acara gereja, mengikuti gerak dan lagu, tampil di acara kampung. Menari menjadikan Didik percaya diri, dari yang semula ia introvert. Percaya diri menurutnya bisa dibangun dengan terbiasa tampil di panggung.

“Saat mengisi seminar, saya juga sering menyampaikan untuk membangun kecintaan terhadap seni budaya harus sejak kecil. Jika sejak kecil sudah mengenal budaya seni, paling tidak saat besar punya sentuhan rasa tentang seni itu penting. Olah rasanya jalan, kata peneliti keseimbangan otak kiri dan kanan jalan,” ucapnya.

Seniman yang juga lihai menggambar itu, mengatakan sebenarnya sang kakek mendorong agar mencari uang yang benar-benar menjanjikan. Dalam artian saat itu dirasa berkecimpung di dunia seni belum bisa menjamin hidup. Meski begitu Didik membuktikan dapat sukses dengan berkesenian. Menurutnya, menjadi seniman memang harus padai mengelola diri sendiri maupun manage pasar. Hal itu yang tidak gampang menurutnya.

Ia juga masuk dalam dunia hiburan meski sering dilecehkan dan dinilai seniman murahan. Namun Didik tetap pada pendiriannya. Didik membuktikan dengan menunjukan kualitasinya, terus belajar dan ia  tidak malu selama meniti karier juga sembari berjualan. Hal itu yang menurtnya jarang dilakukan seniman lain ketika sudah memiliki nama. 

Ingat Para Guru

Seni budaya telah membawa nama Didik hingga ke kancah internasional. Seni budaya membawanya menembus batas. “Saya mengutip Direktur Hong Kong alasan mengajak saya bergabung. Dia mengatakan saya itu seniman cross border jadi tidak cuma menembus batas etnis, batas gender, tetapi batas semuanya, tidak terkotak. Di Indonesia banyak budaya seni, saya belajar dimana-mana, menunjukan Indonesia,” ucapnya.

Didik juga mengingat sejumlah guru yang mengajarinya dulu seperti Endo Suanda, kemudian Suji, I Gusti Agung Ngurah Supartha, I Gusti Gde Raka, kemudian ia juga mengigat dari tari humor, Tutik Nini Thowok yang menciptakan tari Nini Thowok. “Saya banyak dibantu oleh banyak orang yang berperan,” kata penari yang pernah mengenyam pendidikan di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Yogyakarta itu.

Ia juga mengatakan dalam berproses berkarir untuk selalu rendah hati. Ia juga tidak sungkan belajar dari orang yang lebih muda. “Filsafat mbodho itu ada unsur rendah hati, kontrol emosi. Jangan kemlinthi. Itu nasihat kakek saya juga dulu,” ujarnya.