Pasien Diduga Covid-19 Ditolak RS Rujukan, Pemda DIY: Cuma Miskomunikasi

Ilustrasi. - Antarafoto/Aswaddy Hamid
03 April 2020 19:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY menyatakan alur rujukan pasien Covid-19 dari rumah sakit swasta ke RS rujukan telah melalaui sIstem rujukan terpadu (Sisrute). Adanya rumah sakit yang melakukan penolakan pasien rujukan menurutnya karena perbedaan komunikasi.

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menyatakan mekanisme alur rujukan selama ini sudah berjalan sesuai prosedur.

Jumlah tempat tidur untuk seluruh DIY saat sebanyak 255 untuk 27 rumah sakit rujukan Covid-19. Ia mengatakan adanya kasus penolakan pasien oleh pihak rumah sakit (RS rujukan), sebenarnya hanya perbedaan komunikasi, tetapi saat ini sudah diperbaiki dan berjalan normal.

“Mekanisme sudah diatur melalui alur sistem rujukan. Kasus itu [adanya penolakan rumah sakit] hanya miskomunikasi,” katanya Jumat (3/4/2020).

Seperti diberitakan sebelumnya sejumlah pasien rujukan dari RS Nur Hidayah Bantul ditolak oleh otoritas RS Rujukan dengan alasan penuh. dua pasien yang belakangan dinyatakan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) itu akhirnya meninggal dunia.

Berty menegaskan untuk sistem rujukan ini menggunakan sistem rujukan terpadu atau Sisrute. Di mana sistem ini berbasis Internet yang dapat menghubungkan data pasien dari tingkat layanan lebih rendah ke tingkat layanan lebih tinggi atau sederajat. Sistem ini bertujuan mempermudah dan mempercepat proses rujukan pasien. Menurutnya telah diterapkan sejak sebelum adanya kasus Covid-19.

“Dengan menggunakan sistem komunikasi rujukan atau Sisrute. Sistem ini sudah berjalan sebelum ada Covid-19,” ujarnya.

Berty menambahkan jumlah kasus positif Covid-19 di DIY bertambah dua kasus sehingga menjadi 31 kasus. Tambahan dua kasus itu berasal dari pasien tercatat sebagai warga Sleman berusia 48 tahun jenis kelamin laki-laki dan seorang wanita warga Selamn juga berusia 48 tahun. Adapun jumlah yang dinyatakan negative sebanyak 89 pasien dan sebanyak 181 pasien masih menunggu proses laboratorium.

“Rawat inap total ada 126 pasien, sedangkan rawat jalan dan selesai pengawasan sebanyak 162 pasien, kemudian orang dalam pemantauan sebanyak 2.552 orang,” ujarnya.