Mobil Pribadi Mulai Banyak yang Masuk Jogja

Ilustrasi arus kendaraan - ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
05 April 2020 06:37 WIB Catur Dwi Janati Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Arus lalu lalang kendaraan roda empat pribadi di gerbang perbatasan Kulonprogo dengan Purworejo terjadi peningkatan. Dinas Perhubungan (Dishub) Kulonprogo mencatat terjadi aktivitas yang mencolok dari peningkatan arus kendaraan roda empat pribadi dibanding hari biasanya.

Meski begitu gapura yang sekaligus menjadi batas antara Jawa Tengah dan DIY ini masih didominasi kendaraan angkutan barang.

Kepala Dinas Perhubungan Kulonprogo, Bowo Pristiyanto mengatakan pihaknya telah melakukan uji petik kendaraan roda empat pribadi dari wilayah Jabodetabek yang melintas masuk ke Kulonprogo. Uji petik merupakan metode pencatatan kendaraan dalam waktu tertentu untuk mendata kendaraan dengan kriteria tertentu.

"Saat ini kami telah melakukan uji petik dua kali untuk kendaraan melintas masuk, dan satu kali uji petik untuk kendaraan yang melintas keluar Kulonprogo," jelas Bowo pada Sabtu (4/4/2020).

Uji petik pertama dilaksanakan pada Jumat (27/3/2020). Dari hasil uji petik pertama yang dilakukan selama kurang lebih 45 menit tercatat 35 kendaraan dari wilayah Jabodetabek dan Jabar masuk melintasi Kulonprogo. Kendaraan tersebut melintas dengan berbagai keperluan mulai dari urusan pribadi, perdagangan, hingga mudik. "Kami catat jenis kendaraan, jumlah penumpang, asal dan tujuannya, tidak semuanya ke DIY ada juga yang hanya melintas untuk menuju wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur," jelas Bowo.

Pada uji petik kedua dicatat parameter diubah, kendaraan dibagi dalam kriteria asal DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten, lalu kriteria kendaraan plat nomor Jawa Tengah, dan terakhir plat nomor Jawa Timur. Selain itu dibedakan juga jenis kendaraannya, pribadi, angkutan barang, dan bus. Hasilnya 31 mobil pribadi plat nomor Jawa Tengah melintas dan 29 mobil pribadi dari wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. "Terjadi peningkatan, pada hari biasa yang bukan musim liburan harusnya jumlah kendaraan dari wilayah Jabodetabek yang melintas hanya separuhnya sekitar 15 mobil," terang Bowo.

Bowo menjelaskan dari hasil uji petik ke dua yang dilaksanakan pada Jumat (3/4/2020) dengan durasi lebih lama ketimbang uji petik pertama, tren mobil pribadi yang melintas via jalur selatan menurun. Padahal pada uji petik kedua ditambahkan Banten dalam kriteria pencatatan. "Masih kita pertimbankan apakah ada korelasi kebijakan yang dikeluarkan oleh Jabodetabek tentang.. berpengaruh terhadap penurunan mobil pribadi yang melintas," ujarnya.

Pendataan pendatang sulit dilakukan melalui jalur darat seperti motor dan mobil. Karena tidak bisa dipastikan kemana tujuan pengendara, bisa saja hanya melintas dan tidak berhenti di DIY. Bowo mengatakan pendataan pendatang di Kulonprogo lebih difokuskan pada pencatatan dan pelaporan langsung di tingkat Dusun, Kalurahan, hingga Kapanewon.

Sementara itu kendaraan angkutan barang yang melintas dengan plat nomor Jabodetabek, Banten, Jabar dan Jawa Tengah terpantau normal. Menurut Bowo penting untuk mencermati arus kendaraan barang ini. Bowo menjelaskan bila jumlah angkutan barang dalam durasi satu jam cukup banyak maka bisa dijadikan gambaran kecil bahwa arus pengiriman barang lancar. Selama arus angkutan barang masih lancar, diharapkan pasokan kebutuhan pokok maupun sekunder aman dan tidak terpengaruh oleh pelonjakan volume kendaraan dari arah barat.

Terkait volume pemudik dengan kendaraan roda dua. Pihak Dishub Kulonprogo hingga kini belum melakukan pengitungan. Begitu pula dengan pendatang yang datang melalui bus. Belum didapati catatan lengkap atas pendataan pemudik yang menggunakan bus.

Kepala Seksi Pengelola Terminal Wates, Yunarti menjelaskan pihaknya sudah menyosialisasikan kepada seluruh agen yang ada di Terminal Wates untuk mencatat asal dan tujuan penumpang yang pergi maupun datang. Namun karena sepinya penumpang, hanya beberapa agen saja yang mengumpulkan data penumpang.

Pengumpulan data juga terkendala beberapa penumpang yang turun di luar terminal. Jika demikian maka penumpang yang datang tidak bisa di data. Meski melarang penumpang turun di luar terminal, pada praktiknya masih banyak yang turun. "Kalau dari Jabodetabek biasanya kan sampai Wates dini hari, sedangkan jam operasional terminal hanya sampai magrib, penumpang memilih turun langsung deket rumahnya ketimbang harus ke terminal dulu," ujarnya.

Suasana lengang memang terjadi di Terminal Wates, banyak bis Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) hanya berjejar tanpa beroperasi. "Penumpang ya turun drastis," ujar penjaga loket PO. Murni Jaya, Untoro.

Untoro menjelaskan sejak sekitar 10 hari bisnis jasa angkutan umum ini terus merosot. Bayangkan, dari 60 unit bis milik agensi tersebut, kini hanya tinggal 14 unit saja yang beroperasi. "Itu pun kalau ada penumpang, akhir-akhir ini yang naik dari Wates paling banyak cuma empat orang," ucapnya. Bahkan pernah satu bis hanya memberangkatkan satu orang saja ke arah Jabodetabek. Kondisi demikian membuat hampir 45 sopir diliburkan karena tak ada penumpang.

Situasi sepi juga terjadi di Yogyakarta International Airport. Pelaksana Tugas Sementara (PTS) General Manager Yogyakarta International Airport, Agus Pandu Purnama menjelaskan tren penurunan penumpang memang terjadi. Namun banyak maskapai yang tetap beroperasi. "Meski kadang hanya memberangkatkan 10 orang ya tetap lepas landas," ujar Agus.