Sejumlah Tenaga Medis di Jogja Diduga Telah Terpapar Corona

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
12 April 2020 08:37 WIB Sunartono & Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kasus tenaga medis terpapar virus Corona diduga telah terjadi di DIY. Hal itu diketahui setelah sejumlah tenaga medis mengikuti tes cepat atau rapid test untuk mengetahui indikasi awal kemungkinan terinfeksi Covid-19.

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih, menyatakan saat ini sudah ada perkembangan penggunaan rapid test di kalangan tenaga medis. Sejauh ini diketahui ada lima tenaga medis yang ditemukan hasil positif saat dites menggunakan tes cepat. Namun ia menegaskan, jumlahnya hingga saat ini tidak lebih dari lima orang atau belum ada tambahan.

“Belum [ada tambahan tenaga medis yang positif dari rapid test]. Laporannya belum semua bisa kami terima, mungkin pekan depan. Nanti kalau sudah masuk semua akan kami sampaikan infonya," kata Berty Murtiningsih, Sabtu (11/4/2020).

Organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIY membenarkan adanya sejumlah tenaga medis di DIY yang menunjukkan hasil positif saat menjalani rapid test.

"Memang benar, ada beberapa dokter yang menunjukkan hasil akhir rapid test seperti dugaan awal, terkait dengan tugas profesional mereka," kata Anggota Seksi Pengembangan Profesi IDI Wilayah DIY kepada Harian Jogja, Sabtu (11/4/2020).

Kendati demikian, Wikan tak mengetahui detail dari RS mana saja kelima tenaga medis yang menunjukkan hasil positif saat tes cepat itu. “Hasil rapid test Covid-19 diberitahukan kepada petugas RS, termasuk dokter, dan pasien yang diperiksa, oleh dokter penanggung jawab layanan rapid test di masing-masing RS, langsung kepada individu yang diperiksa. Hasil tersebut tidak diatur harus dilaporkan kepada institusi lain, termasuk organisasi profesi seperti IDI, perawat, bidan dan lainnya,” kata dia.

Hasil rapid test Covid-19, lanjut Wikan, pada tahap awal hanya diperuntukkan bagi petugas RS, termasuk dokter, dan keluarga pasien untuk menelusuri dugaan infeksi Covid-19.

"Namun karena ketersediaan rapid test masih terbatas, maka prioritas dilakukan pada petugas RS, termasuk dokter yang melakukan kontak erat dengan pasien dalam pengawasan [PDP] Covid-19 yang dilayani di RS," terangnya.

Wikan menyebutkan jika rapid test adalah pemeriksaan screening, bukan diagnosis. Sehingga memerlukan pemeriksaan ulang sekitar 10 hari kemudian.

"Selain itu, hasil pemeriksaan rapid test tidak menentukan tata laksana medis, karena apapun hasilnya, kalau tidak disertai gejala klinis bermakna hanya memerlukan tindakan karantina atau isolasi mandiri di rumah," lanjutnya.

Terkait dengan kerawanan tenaga medis di DIY tertular Corona menyusul keterbatasan alat pelindung diri (APD), Wikan menegaskan jika pada awal pandemi Covid-19 di DIY memang ketersediaan APD mengkhawatirkan.

Namun demikian, kata dia, saat ini ketersediaan APD sudah semakin membaik, artinya jumlahnya semakin bertambah. Kerja sama dan donasi dari berbagai pihak juga dari masyarakat luas terkait dengan kebutuhan APD telah sedikit mengatasi permasalahan yang ada.

"APD memang sangat diperlukan, terutama bagi para petugas RS dan fasilitas pelayanan kesehatan [Fasyankes] dan lainnya, termasuk dokter, dalam melindungi diri atas penularan Covid-19 dari para pasien yang ditanganinya," kata Wikan yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Medik RS Panti Rapih Jogja itu.