Ini Alasan Takmir Masjid Karangwuni Tetap Menampung dan Merawat WNA India Negatif Corona

WNA asal India yang tidak mengalami gejala Covid-19 setelah menjalani rapid test Covid-19, masih dikarantina di masjid di wilayah Depok, Sleman, Kamis (23/4/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak\\n
28 April 2020 07:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Kabar para WNA India yang negatif Covid-19 kemudian dikarantina di Balai PMD Kemendagri, Kalasan, tidak benar. Masjid Al-Ittihad Karangwuni, Depok, Sleman masih merawat mereka demi kemanusiaan.

Takmir Masjid Al-Ittihad Susanto menjelaskan hingga kini WNA India yang juga anggota Jamaah Tabligh Internasional masih tinggal di masjid. Mereka merawat para WNA yang overstay tersebut sejak pandemi Corona Covid-19 melanda Indonesia.

Karena negara India mengambil kebijakan lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, 15 WNA ini tidak bisa kembali ke tanah airnya. Saat ini, setelah dinyatakan empat WNA India positif Covid-19, masjid tersebut untuk sementara waktu ditutup.

"Kami sudah kirim surat ke BPBD bahwa warga keberatan dan minta dipindahkan tapi katanya belum ada tempat," ujar Susanto saat menjawab pertanyaan Harianjogja.com, Senin (17/4/2020).

Sambil menunggu waktu BPBD DIY mencari lokasi karantina bagi 11 warga India, takmir tetap merawat mereka untuk tinggal di lantai dua masjid tersebut. Bagi Susanto hal itu dilakukan demi kemanusiaan.

Apalagi, katanya, ada ratusan warga negara Indonesia yang saat ini juga terjebak dan tidak bisa kembali ke Indonesia setelah India mengelurakan kebijakan lockdown.

"Pertama ya kemanusiaan kedua karena warga kita yang di India jumlahnya sekitar 800 an. Nanti kalau ini diperlakukan tidak baik, nanti yang disana juga diperlakukan sama," kata Susanto.

Dia menegaskan, selama tinggal di masjid para WNA India ini sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari masjid. Hal itu sekaligus menepis dugaan para anggota jamaah tabligh ini pergi ke sejumlah masjid untuk mengikuti sejumlah pengajian di DIY.

"Enggak benar sama sekali [kalau WNA India ikut pengajian ke beberapa masjid]. Sejak heboh Corona mereka sudah kita karantina dilantai dua dan ndak boleh keluar masjid untuk jauhlah [melakukan perjalanan]," katanya.

Susanto sendiri mengaku bukan anggota Jamaah Tabligh. Ia hanya sebagai warga Karangwuni yang dulu diberi tugas untuk membangun Masjid dan menjadi imam pengganti bila imam utama (ust J) berhalangan.

"Kalau (ustad J) beliau imam utama dan juga anggota jamaah tabligh, sekarang ada di RSI menunggu hasil swab," jelasnya.

Selama tinggal di masjid, katanya, segala kebutuhan logistik para WNA ditanggung oleh masjid dan para jamaah tabligh. Dia berharap, agar pemerintah segera mencari solusi yang tepat bagi WNA tersebut.

Perlakuan baik yang diberikan masjid bagi para WNA India baginya penting, karena itu menyangkut hubungan dan nasib masing-masing warga kedua belah negara. "Harapannya ya pemerintah bertanggung jawab dengan warga India ini dengan ngopeni mereka," pinta Susanto.