Buntut Kasus Covid-19 dari Jemaah Tabligh, 200 Warga Sleman Harus Jalani Rapid Test

Sejumlah warga negara India yang sedang dilakukan pemeriksaan oleh petugas kesehatan di Masjid jami' Al-ittihad di Caturtunggal, Depok, Sleman, Rabu (22/4/2020). - Ist\\n\\n
04 Mei 2020 21:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Dinkes Sleman fokus Melakukan pelacakan dan rapid test bagi jemaah tabligh untuk mengendalikan penyebaran virus Corona.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan pelacakan kepada anggota Jemaah Tabligh yang melakukan kontak erat dengan pasien positif Covid-19 terus dilakukan oleh Dinkes. Rapid test massif tersebut dilakukan melalui Puskesmas secara senyap.

Artinya, ketika hasil pelacakan menemukan anggota Jemaah Tabligh yang perlu dirapid test petugas pun melakukan tes cepat. "Kami sudah lakukan rapid test ini terus menerus, memang sebagian dilakukan secara senyap. Titik fokus ini utamanya klaster jamaah tabligh," kata Joko, Senin (4/5/2020).

Dijelaskan Joko, dalam sepekan terakhir total warga ataupun jemaah tablig yang dilakukan test cepat sudah sekitar 200 orang lebih sedikit.

Bagi yang reaktif saat menjalani rapid test, maka Puskesmas meminta dilakukan pemeriksaan swab di rumah sakit rujukan Covid-19. Sebaliknya, bagi yang tidak reaktif saat di rapid test artinya tidak ada paparan Corona.

Jumlah pasti berapa warga dan jamaah tablig yang di rapid test, berapa yang reaktif kemudian diswab ini belum bisa dilaporkan oleh masing-masing Puskesmas. "Kalau jumlah dan hasilnya yang lebih spesifik, nanti biar dipilah teman-teman (Puskemas) dulu. Tapi kisaran sekitar 200 orang lebih sedikit yang di rapid test terkait klaster Jamaah Tabligh ini," papar Joko.

Penanggungjawab Posko Informasi Satgas Covid-19 Sleman Novita Krisnaeni menjelaskan jika data RDT sampai saat ini masih menjadi satu. Dinkes belum memisahkan mana yang masuk klaster Jamaah Tabligh dan mana yang bukan. Tapi dia memastikan jika data tersebut ada. "Cuma belum kami pisahkan karena sampai saat ini pelaksanaan RDT masih terus berproses," kata Novi.