AKAP Masih Banyak yang Belum Beroperasi

Suasana Terminal Giwangan yang lengang, Rabu (1/4). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
09 Mei 2020 06:27 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Kementerian Perhubungan telah mengoperasionalkan kembali angkutan massal di daerah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dengan sejumlah ketentuan. Di Kota Jogja, khususnya Terminal Giwangan, kebijakan ini belum terlihat banyak dampaknya.

Pengelola Administrasi Stasiun Layanan Terminal Tipe A Giwangan, Aji Fajar, menuturkan sampai saat ini bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) masih banyak yang belum beroperasi. “Yang masih jalan seperti Purwokerto, Cilacap, Magelang dan Solo,” ungkapnya, Jumat (8/5/2020).

Data pada Kamis (7/5/2020) menunjukkan bus AKAP yang datang sebanyak 25 armada dengan penumpang 44 rorang, sedangkan bus berangkat sebanyak 26 armada dengan penumpang 66 orang. Total sejak Jumat hingga Kamis (1-7/5/2020), bus AKAP datang sebanyak 191 armada dengan 251 penumpang, sementara bus berangkat sebanyak 204 armada dengan 741 penumpang.

Kepada penumpang dan bus yang datang pihaknya menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19, yakni dengan memastikan menggunakan masker, cuci tangan, sterilisasi, cek suhu badan, pencatatan data diri penumpang dan alamat tujuan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja, Agus Arif Nugroho, mengatakan saat ini dari daerah PSBB belum ada operasional angkutan massal. Menurutnya, dengan pelonggaran ini seleksi kendaraan dapat masuk ke Kota Jogja tetap dilkaukan oleh Pemda DIY di tiga pintu masuk DIY.

Ia melihat meskipun dilonggarkan, ketentuan untuk bisa menggunakan angkutan massal juga tetap masih cukup ketat sehingga tidak lantas memicu arus mudik. “Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Semoga tidak disalahgunakan, tapi benar-benar sesuai peruntukannya,” kata dia.

Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi, mengungkapkan di saat penghentian operasional angkutan massal saja daerah sudah kewalahan dalam memfilter kendaraan pribadi dan logistik. Dengan pelonggaran ini maka akan menjadi pekerjaan baru untuk menahan sebaran Covid-19 melalui mobilitas antar daerah.

“Saat ini para perantau dan warga kampung sudah menerima dengan adanya larangan mudik dan mau bersabar untuk tidak mudik. Dengan dibukanya transportasi publik ini diharapkan tidak menjadikan pemudik meningkat,” ucapnya.