Jeritan Hati Penjual Semangka, Dulu Habis Sehari Kini Sampai 4 Hari

Penjual semangka, Agus Prayitno melayani pembeli pada Minggu (10/5/2020) di tepi Jalan Sentolo - Nanggulan. - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
12 Mei 2020 04:07 WIB Catur Dwi Janati Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Ramadan biasanya menjadi salah satu berkah bagi pedagang buah. Aneka buah biasanya laris manis diburu pembeli untuk menu berbuka puasa, tak terkecuali buah semangka.

Salah satu pedagang semangka di Kapanewon Nanggulan, Agus Prayitno mengaku penjualan semangka ramadan tahun ini menurun. Penjualan hanya sempat meningkat di lima hari awal Ramadan, selanjutnya berangsur turun. "Awal Ramadan itu sempat naik, sehari bisa habis satu ton paling banyak, minimal lima kuintal laku lah," jelas Agus, Minggu (10/5/2020).

Selepas lima hari awal, penjualan semangka berangsur normal kembali. Padahal menurut Agus biasanya di Ramadan penjualan harian bisa meningkat. "Kalau Ramadan tahun lalu itu sehari minim enam kuintal dan itu stabil sampai akhir," ucapnya.

Agus yang sudah berjualan semangka lebih dari dua tahun mengaku biasanya saat ramadan bahkan bisa habis 1,25 ton per hari. Kini rata-rata penjualan semangka per hari hanya mencapai tiga kuintal ke bawah.

Pola konsumen juga berubah menurut pengamatan Agus. Kalau Ramadan tahun lalu banyak pembeli memilih semangka ukuran jumbo dengan bobot minimal enam kilogram. Namun saat ini semangka ukuran mini, yakni tiga kilogram ke bawah lebih diminati.

Dugaan Agus perubahan pola konsumen ini disinyalir karena anjuran pemerintah untuk melakukan kegiatan ibadah di rumah. Pasalnya bisa ramadan biasa, masjid-masjid rutin mengadakan bagi takjil. Hal itu kemungkinan besar berpengaruh terhadap penjualan semangka Agus.

"Kalau beli ukuran besar biasanya kan buat dibagi, salah satunya untuk takjil, sekarang kebanyakan beli yang kecil-kecil kan berarti paling untuk konsumsi pribadi," ucapnya.

Dengan adanya pandemi ini, setidaknya omzet penjualan semangka Agus di bulan Ramadan ini menurutnya kurang lebih 50% ketimbang Ramadan sebelumnya.

Apa yang dialami Agus masih tergolong beruntung. Pedagang semangka lainnya, Sri Purwanti alami penjualan lebih sedikit dibandingkan Agus. Sri yang sehari-hari berjualan di dekat Kantor Kapanewon Pengasih hanya mampu menjual 10-30 butir semangka ukuran tiga kilogram setiap hari.

Sri awalnya pedagang kelapa di Bantul, namun terpaksa banting setir jual semangka di awal Ramadan. Sejak awal Ramadan itu penjualan Sri tak semoncer milik lapak milik Agus. Meski begitu Sri tetap kukuh berjualan guna menyiasati penjualan kelapa miliknya yang sudah jatuh. "Ini saja kulakan empat kuintal paling habisnya bari semingguan," ujar Sri.