Pilih New Normal atau PSBB? Ini Hasil Survei untuk Warga DIY

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
29 Mei 2020 15:52 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Sebuah survei baru-baru ini mengukur persepsi warga DIY tentang pengendalian Covid-19. Apakah memilih pembatasan sosial berskala besar (PSBB) atau new normal.

Magister dan Doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan (MDKIK) UGM melakukan survei soal persepsi masyarakat DIY terkait dengan pencegahan penularan Covid-19.

Survei yang dilakukan pada 26-28 Mei kemarin, sebanyak 492 responden yang disurvei lewat wawancara online yang tersebar di lima kabupaten/kota di DIY. Dari hasil survei tersebut, warga DIY setuju jika pemerintah menerapkan new normal disertai pelonggarkan membuka kembali kegiatan perekonomian dan tempat ibadah dengan standar protokol kesehatan secara ketat.

Namun, survei itu juga menunjukkan kesetujuan warga ihwal penerapan PSBB.

Anggota Tim Survei Satria Aji Imawan, mengatakan sekitar 60 persen dari responden setuju pemerintah memberlakukan penerapan kesehatan new normal dengan membuka kembali pasar, pertokoan, mall dan tempat ibadah. “Lebih dari separuh responden menyetujui jika ada keputusan itu meskipun dengan persayaratan penerapan protokol kesehatan dan kebersihan yang ketat,” kata Satria Aji kepada wartawan saat menyampaikan laporan hasil survei secara webinar, Jumat (29/5/2020).

Dari Hasil survei tersebut, ia menyebutkan sebanyak 61,8 persen responden setuju penerapan protokol kesehatan, 28,5 persen tidak setuju dan sisanya setuju namun protokol biasa.

Lalu, sebanyak 72,8 perse menginginkan dibukanya tempat ibadah. “Hanya 17,5 persen yang tidak setuju,” katanya.

Selain itu responden juga menginginkan agar pemda DIY juga membuka kegiatan pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi sebanyak 65 persen, dan sedangkan yang ingin pasar dan maal dibuka sebanyak 74,6 persen.

Namun dari hasil survei yang menyodorkan soal pilihan pengambilan kebijakan pencegahan Covid-19 lewat PSBB, New normal atau Lockdown diberlakukan di DIY. “Sebanyak 66 persen memilih PSBB, hanya 34 persen tidk setuju. Opsi lebih besar dibanding opsi penerapan new normal atau lockdown,” katanya.

Citra Sekarjati, anggota peneliti lainnya mengatakan survei ini dalam rangka untuk persepsi penduduk di DIY terkait wabah Covid-19 sebagai daerah percontohan new normal. Seperti diketahui, Pemda DIY sendiri tidak melakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar, melainkan menerapkan status tanggap darurat bencana covid.

Menanggapi hasil survei tersebut, Guru Besar Bidang Kebijakan Publik dan Kependudukan UGM Prof. Muhadjir Darwin mengatakan survei ini memang tidak mewakili seluruh kelompok masyarakat DIY karena dilakukan wawancara secara online. “Artinya yang mengisi kuesioner mereka yang sudah melek teknologi atau sudah akrab dengan dunia online sementara belum terwakili warga yang berekerumun di pasar,” katanya.

Namun demikian menurutnya survei ini layak juga untuk dipertimbangkan oleh pengambil kebijakan. Sementara di tingkat bawah, masih banyak warga masyarakat yang mengindahkan protokol kesehatan standar covid-19 seperti menggunakan masker, jaga jarak dan rajin cuci tangan. “Jika dibiarkan, harapan kita ada pengurangan insiden tertular (covid-19) sulit terjadi dan pemerintah perlu bertnindak tegas atas kondisi ini,” katanya.

Ia mengakui DIY sendiri tingkat insidensi warga tertular virus corona tidak begitu banyak seperti daerah lain. Bahkan dari tiga hari ini hampir tidak ada penambahan pasien yang dikabarkan positif corona. Namun hal itu tidak menjadai alasan pemerintah untuk lebih menerapkan aturan yang tegas di lapangan. (*)