RSUP Sardjito Bakal Memulai Terapi Plasma Darah untuk Menyembuhkan Pasien Covid-19

Kepala Unit Pelayanan Tranfusi Darah (UPTD) RSUP Sardjito, dr. Teguh Triyono, menjelaskan penggunaan plasma darah untuk penyembuhan Covid-19, Jumat (5/6 - 2020).
05 Juni 2020 20:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Terapi plasma darah dikabarkan membawa harapan baru dalam penyembuhan pasien covid-19. Di DIY, RSUP Sardjito menjadi rumah sakit rujukan Covid-19 pertama yang akan melakukan terapi ini. Tiga pasien sembuh covid-19 telah mendonorkan plasmanya pada minggu ini.

Kepala Unit Pelayanan Tranfusi Darah (UPTD) RSUP Sardjito, dr. Teguh Triyono, menjelaskan terapi plasma darah atau plasma konvalesen menjadi salah satu opsi dalam penyembuhan pasien covid-19 karena sejauh ini memang belum ada obat spesifik untuk covid-19.

Di Indonesia, terapi ini sekarang sedang dalam fase uji klinis yang dilakukan oleh 10 rumah sakit rujukan covid-19 termasuk RSUP Sardjito. “Datanya akan kami kumpulkan dengan rumah sakit lain dan dipublikasi. Kalau hasilnya bagus, baru menjadi pedoman nasional,” ujarnya, Jumat (5/6/2020).

Ia menuturkan untuk melakukan tranfusi plasma konvalesen terdapat sejumlah syarat khusus yang harus dipenuhi di samping syarat umum untuk tranfusi darah biasa. Syarat khusus ini pertama, pendonor harus pernah menjadi pasien positif covid-19, sudah dinyatakan sembuh dan melakukan tranfusi minimal 14 hari setelah sembuh.

Kedua, pendonor harus terbukti mengandung antibodi terhadap covid-19. Meski sudah sembuh, tidak semua mantan pasien covid-19 memiliki antibodi covid-19. Ketiga, sebelum melakukan transfusi, pendonor harus terbukti negatif Covid-19 yang dibuktikan dengan hasil PCR. Tranfusi maksimal dilakukan dua hari setelah tes PCR.

Pengambilan plasma konvalesen menggunakan metode plasmapheresis, dimana sel darah merah tidak diambil melainkan hanya plasmanya saja. Plasma yang diambil berkisar 400-500 mililiter. Berbeda dengan donor darah, transfusi plasma konvalesen bisa dilakukan setiap dua minggu oleh pendonor yang sama sehingga satu pendonor memungkinkan untuk mendonrkan plasma konvalesen ke lebih dari satu pasien covid-19.

Meski sudah ada pengambilan plasma, di RSUP Sardijto belum melakukan terapi plasma ini pada pasien covid-19. Ia mengungkapkan selain pendonor, pasien yang akan diterapi pun harus memenuhi sejumlah syarat baik dari sisi klinis maupun tranfusi.

Secara teori maupun hasil penelitian yang sudah dilakukan di beberapa negara, terapi plasma Sebagian besar menunjukkan lebih cepat proses penyembuhan pasien covid-19. di samping itu, gejala penyakit juga menunjukkan pengurangan. “Semisal tadinya sesak, setelah diterapi plasma sesaknya hilang,” katanya.

Terapi plasma dikenal dunia sejak wabah ebola melanda Afrika sekitar 2014 silam. Sejak itu, banyak penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus diobati dengan terapi plasma. Terapi ini menekankan pada antibodi suatu penyakit untuk melawan virus penyakit yang sama.

Sebab itu, tranfusi plasma hanya bisa dilakukan oleh orang dengan penyakit sama. Lebih jauh, terapi plasma juga sebaiknya dilakukan tidak lintas negara. “Sangat mungkin virus SARS-Cov-2 yang ada di Indonesia berbeda dengan SARS-Cov-2 yang ada di Amerika. Pilihan yang paling baik diambil dari negara sendiri karena kalau strengths-nya berbeda, antibodnya juga berbeda,” ungkapnya.