Danang Samsurizal, Cermat dan Peka Hadapi Ancaman Bencana

Danang Samsurizal di kantor Pusdalops BPBD DIY (Foto: Salsabila Annisa Azmi)
23 Juli 2020 05:27 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJAPandemi Covid-19 menambah deretan ancaman bencana di DIY setelah aktivitas Gunung Merapi, kekeringan di Gunungkidul dan gempa bumi. Relawan di lapangan bekerja seratus kali lebih keras daripada biasanya. Sebagai Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY, Danang Samsurizal, 48, berprinsip dirinya harus ekstra cermat membuat taktik dan selalu peka terhadap kebutuhan lapangan masyarakat dan para relawan. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.

7 hari 24 jam adalah satuan waktu yang selalu ada di dalam kepala Danang sebagai seorang pemimpin yang membawahi ratusan staf dan relawan di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD DIY, terlebih saat pandemi Covid-19 merebak di DIY. Menurutnya, sebagai sosok yang bekerja di bidang kemanusiaan dia tak boleh absen hadir mendampingi dan mengawasi para relawan yang kini bekerja keras 100 kali lipat di lapangan.

“Bencana dan situasi darurat tidak kenal tanggal muda atau tanggal tua, tidak peduli apakah itu hari Senin atau Minggu. Terlebih sekarang ada pandemi, ini menambah jenis ancaman bencana di DIY. Total saat ini, DIY punya 13 ancaman. Otomatis, tanggap darurat penanganan pandemi di DIY akan lebih sibuk,” kata Danang saat diwawancarai Harian Jogja di kantor Pusdalops BPBD DIY, Sabtu (18/7/2020).

Pagi itu Danang mengenakan rompi seragamnya dengan rapi, satu persatu relawan hilir mudik masuk ke ruangannya mengkoordinasikan kegiatan lapangan. Sehingga Danang berkali-kali harus izin jeda wawancara demi kepentingan relawan. Bahkan Danang kedatangan tamu yang mengadu permasalahan lapangan terkait kekurangan ambulans. Dengan seksama, Danang mendengarkan kecemasan mereka dan memberi ruang diskusi untuk solusi terbaik.

Tamu dan relawan yang secara bergantian menemuinya untuk berkoordinasi adalah pemandangannya sehari-hari. “Di saat seperti ini kami harus solutif. Jadi prinsipnya jangan hanya bicara aturan. Kalau ada masyarakat di lapangan minta tolong, jangan hanya dibalas dengan ‘tapi aturannya seperti ini’. Tidak bisa. Lebih tepat ‘aturannya seperti ini memang, tapi coba, ada cara ini’, ini bicara juga soal rasa dalam berkomunikasi,” kata Danang.

Saat ini, Danang memimpin ratusan staf dan relawan untuk melaksanakan tanggap darurat penanganan pandemi. Menurut dia, penanganan pandemi di DIY juga tak bisa mengesampingkan ancaman bencana lainnya seperti aktivitas Gunung Merapi, kekeringan di Gunung Kidul, dan Gempa Bumi. Semua penanganan bencana harus berjalan selaras.

Danang tak memungkiri pandemi menyebabkan adanya banyak penyesuaian dalam penanganan kebencanaan. Meskipun saat ini DIY aman dari bencana alam, Danang merasa harus selangkah lebih maju. Dia membayangkan sebuah skenario di benaknya. Di tengah hiruk pikuk para relawan membantu masyarakat dalam penanganan pandemi, tiba-tiba aktivitas Gunung Merapi meningkat menjadi waspada.

“Jika dari BMKG ada peringatan Merapi statusnya gawat, hanya ada 20 menit buat ambil keputusan apakah warga harus diungsikan atau tidak. Dan tentunya naungan pengungsi tidak akan sama. Harus ada protokol jaga jarak. Ini tantangan besar bagaimana protokol kesehatan tetap diterapkan di tengah situasi panik dan genting,” kata Danang. Di tengah kesibukannya, kini dia terus memikirkan strategi penanganan untuk situasi tersebut.

Pandemi, aktivitas Gunung Merapi, gempa bumi dan kekeringan membuat Danang harus cermat mengatur taktik, termasuk strategi pembagian sumber daya relawan di lapangan. Tak hanya itu, dia berprinsip harus selalu peka terhadap kebutuhan di lapangan, baik itu dari masyarakat, instansi lain, dan para relawan.

Oleh karena itu, sebagai middle management, Danang memposisikan diri dengan seimbang sebagai sosok yang memantau dan turun langsung ke lapangan. Masih segar dalam ingatannya, perjalanan seharian penuhnya menuju ibu kota pada Maret dan April lalu saat menjemput reagen tes senilai miliaran rupiah.

“Saya waktu itu nyetir sendiri, saat kondisi sedang genting-gentingnya, memang saya merasa harus turun langsung. Alat itu tanggungjawabnya besar dan penting untuk saya hadir bersama relawan agar mereka aman dan tenang menjalankan tugas mereka,” kata Danang.

Danang pun merasakan betapa rumitnya proses penjemputan jenazah positif Covid-19. Betapa panasnya tubuh ketika dibalut oleh Alat Pelindung Diri (APD), atau bagaimana rasanya ketika dia bernafas, kacamata pelindung berembun dan mengaburkan pandangan. Dari pengalaman itu Danang makin menyadari dia harus menyediakan alat-alat dan fasilitas yang terstandar untuk mendukung pekerjaan dan kesehatan para relawan.

“Sebagai seorang pemimpin, saya tunjukkan dan tidak hanya omong. Sesekali saya terjun ke lapangan. Tapi di sisi lain saya juga percaya kemampuan staf. Harus seimbang antara mengawasi dan memberi contoh,” kata Danang.

Budaya kerja juga merupakan hal yang menjadi perhatian Danang. Dalam memimpin, Danang memposisikan dirinya sebagai pemimpin yang tegas namun juga akomodatif dan inovatif. Prinsipnya, ketika dia ingin membuat satu keputusan, dia harus berdiskusi terlebih dahulu dengan para stafnya. Danang juga gemar membuat serangkaian inovasi dalam bidang teknologi dan budaya perusahaan.