OPINI: Bayi yang Tidak Diinginkan: Ujian Etika dan Kemanusiaan Kita
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Pembelajaran tatap muka mulai dilakukan di Gunungkidul.
Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengizinkan sekolah-sekolah dasar di wilayah tersebut memberikan materi pelajaran kepada siswa dengan tatap muka satu kali dalam satu minggu, dalam menyikapi keterbatasan jaringan Internet.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bahron Rasyid, di Gunung Kidul, Selasa (28/7/2020), mengatakan dari 436 sekolah dasar yang tersebar di 18 kecamatan/kapanewon di Gunung Kidul, 70 persen siswanya mengalami kesulitan internet untuk melaksanakan metode belajar dari rumah secara daring.
"Kami memberikan kesempatan sekolah-sekolah tertentu untuk memberikan pelayan pendidikan secara tatap muka seminggu sekali, agar gurunya bisa memberikan tugas atau materi belajar," kata Bahron.
Ia mengatakan geografis di Gunung Kidul mayoritas berbukit-bukit, sehingga jaringan internet sudah diakses oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat atau wali orang tua yang memiliki telepon genggam atau hp android, dan laptop. Untuk itu, pihaknya mengeluarkan kebijakan siswa masuk sekolah mengambil materi belajar.
Ia mengatakan, saat ini, jaringan internet hanya terpusat di titik-titik tertentu dan tidak merata sehingga menjadi pekerjaan rumah bersama jika ingin melaksanakan belajar daring selama masa pandemi COVID-19 ini.
Ia juga mengaku dilema dengan ada permasalahan ini, namun semua harus dipahami semua pihak demi proses belajar yang lebih baik.
"Kami berharap metode ini para siswa tetap bisa memperoleh pelajaran di masa pandemi. Kami harap guru tetap menjaga protokol kesehatan, sekolah tertentu boleh mendatangkan siswa tetapi dibagi jumlahnya dan tidak bergerombol," katanya.
Sementara itu, salah seorang guru di SD Negeri Slametan, Kalurahan/Desa Kelor, Kepanewonan/Kecamatan Karangmojo Anika Kurniawati mengatakan dirinya memberikan pelayanan pendidikan dengan mendatangi siswa didik seminggu sekali, pada Sabtu. Kegiatan ini dilaksanakan setelah mendapat izin dari kepala sekolah dan wali murid.
"Kelas I di SD Negeri Slametan ada 14 murid. Kemudian, mereka dibagi menjadi tiga kelompok untuk datang ke salah satu rumah orang tua siswa untuk belajar bersama. Kami datangi kelompok untuk memberikan materi belajar dan mengajari materi pelajaran," katanya.
Anika mengaku metode belajar yang ia terapkan, bukan karena keterbatasan akses internet namun karena ingin melihat secara langsung anak didiknya belajar. Seperti diketahui, siswa kelas 1 merupakan siswa transisi dari TK ke sekolah dasar, diperlukan pemahaman ekstra agar bisa memahami pelajaran.
"Kalau pelajaran tatap muka bisa mengetahui secara langsung perkembangannya seperti apa, kalau menggunakan hp kita tidak mengetahui tulisan yang dikirimkan benar-benar dari siswa atau milik orang tuanya," ucap Anika.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
KPK mengawasi program Makan Bergizi Gratis agar bebas korupsi. Anggaran MBG 2026 mencapai Rp268 triliun dan jadi sorotan.
Kemeriahan Laki Code kemudian ditutup dengan special performance dari DJ Paws dan Los Pakualamos yang memukau dari panggung utama
UII mengecam penangkapan relawan dan jurnalis dalam misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza, termasuk alumnus UII asal Indonesia.
Jadwal KA Bandara YIA menuju Stasiun Tugu Yogyakarta dan sebaliknya pada 20 Mei 2026, lengkap dari pagi hingga malam hari.
Lamine Yamal menargetkan rekor sebagai pemain Spanyol termuda yang mencetak hat-trick di Piala Dunia 2026 bersama La Roja.