Dusun di Bantul Digadang-gadang Jadi Desa Wisata Anggur

Anggota Komisi B DPRD DIY memetik buah anggur di halaman depan rumah salah satu warga Dusun Plumbungan, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Kamis (6/8/2020). -(SuaraJogja.id - Hiskia Andika
06 Agustus 2020 22:17 WIB Newswire Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Sebuah dusun di Bantul digadang-gadang jadi desa wisata Anggur.

Komisi B DPRD DIY melakukan kunjungan ke Dusun Plumbungan, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul pada Kamis (6/8/2020). Kunjungan tersebut dalam rangka meninjau kesiapan Dusun Plumbungan, yang nantinya akan dijadikan sebaga desa wisata anggur.

"Dalam kunjungan kali ini kami melakukan tinjauan di kampung anggur ini, yang merupakan swadaya murni dari masyarakat yang sangat dimungkinkan mengangkat potensi di wilayah masing-masing, khususnya di Dusun Plumbungan ini," kata Ketua Komisi B DPRD DIY Danang Wahyu Broto saat ditemui Suara.com-jaringan Harianjogja.com seusai kunjungan di salah satu rumah warga Plumbungan, Kamis.

Danang menilai, kampung anggur ini menjadi sebuah contoh pilot project yang cukup bagus bagi masyarakat luas. Pasalnya, hasil penjualan buah anggur di kampung anggur tersebut juga terbilang lumayan, yakni sekitar Rp100.000 lebih setiap kilogramnya.

Pihaknya berharap, nantinya pemerintah provinsi atau kabupaten juga dapat turut membantu dalam setiap hal terkait dengan kegiatan-kegiatan masyarakat seperti ini. Menurutnya, kegiatan ini sebagai salah satu kesempatan dalam rangka pemberdayaan masyarakat dengan potensi yang ada sekaligus juga untuk meningkatkan kesejahteraan.

"Tadi ada permintaan seperti pupuk, jaring pengaman untuk buah, dan penanganan hama. Itu semua nanti akan kita support meskipun baru bisa masuk ke anggaran tahun 2021 atau 2022," imbunya.

Danang juga mengatakan, pihaknya siap untuk melakukan kunjungan ke tempat-tempat lain yang memiliki potensi lain di masyarakat. Pihaknya sebisa mungkin juga akan mengupayakan support kepada kegiatan-kegiatan masyarakat yang dinilai potensial, baik berupa anggaran dari pemerintah provinsi atau yang lainnya.

Sementara itu, salah satu inisiator Kampung Anggur di Plumbungan yang rumahnya dikunjungi rombongan Komisi B DPRD DIY, Rio Aditya, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan secara mendadak. Meski begitu ia tetap senang karena sudah diperhatikan dan mendapat apresiasi dari beberapa pihak.

"Agenda kunjungan ini juga mendadak, tapi saya senang sudah diperhatikan seperti ini," ujar Rio.

Lebih lanjut, Rio menuturkan bahwa pihak desa dan pemerintah juga sudah merencakan akan menjadikan wilayah itu sebagai satu desa wisata di Bantul. Namun meski begitu masih banyak yang perlu diperhatikan untuk merealisasikan pembuatan desa wisata kampung anggur itu.

"Sebenarnya yang paling vital jika memang direncanakan untuk dijadikan tempat wisata ya infrastrukturnya," ungkapnya.


Sudah Sejak Lama

Rio sendiri mengungkapkan, ia sudah mulai menanam anggur di halaman rumahnya sejak 2010 lalu. Waktu itu ia masih menanam buah anggur dengan jenis lokal saja.

Namun memasuki tahun ke empat tepatnya pada 2014, Rio mengganti buah anggur lokal tadi dengan anggur ninel atau yang disebutnya sebagai jenis Satria Tamansari.

"Jenis anggur Satria Tamansari ini juga sudah diresmikan Kementerian Pertanian sebagai salah satu varietas baru anggur lokal Bantul," kata Rio.

Dikatakan Rio bahwa hingga saat ini hampir lebih dari dari 85% warga di Dusun Plumbungan sudah ikut menanam anggur di halaman rumah mereka masing-masing. Sebenarnya tidak hanya satu jenis anggur yang ditanam namun kebanyakan warga memilih menanam jenis Satria Tamansari ini untuk dikembangkan karena memang perawatan yang lebih mudah.

"Tahun 2018 sudah mulai ramai pengunjung, kalau warga sini sejak tahun 2017 sudah mulai ikut menanam anggur juga," ucapnya. Rio menyebutkan panenan anggur di halaman rumahnya itu sempat menembus hingga 1.5 ton pada tahun 2018. Dari hasil itu pihaknya mengaku sudah langsung ludes diburu oleh pembeli dari daerah lokal saja.

Terkait dengan hasil buah dalam beberapa bulan terakhir, pihaknya menjelaskan hasilnya cenderung stabil meskipun tidak ada peningkatan maupun penuruanan yang drastis akibat pandemi Covid-19.

"Mungkin karena perawatan dan pengawasan kita aja kalau sekarang jadi agak kurang sedikit. Itu juga efek karena beberapa bulan sebelumnya juga sudah cukup banyak panennya sehingga sekarang agak kurang," jelasnya.

Rio yang saat ini memiliki lahan anggur seluas 200 m di depan rumahnya, sedangkan 350 m berada di belakang rumah mengaku sudah sejak dua tahun lalu disambangi pengunjung. Tidak hanya untuk berfoto-foto atau memetik buah anggur yang sudah matang di lahannya tapi juga membeli benih tumbuhan anggur untuk ditanam sendiri.

"Sebenarnya pengunjung bisa metik sendiri buahnya, tapi kalau sekarang buahnya masih sedikit. Beberapa bulan kebelakang malah buah sama pengunjungnya banyakan pengunjungnya, bahkan kadang buah yang belum mateng juga dipetiki sama pengunjung, sayang juga sebenernya," tandasnya.

Sumber : Suara.com