Wereng di Sleman Mulai Surut, Petani Diminta Tak Lengah

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Senin, 13 Juli 2026 14:57 WIB
Wereng di Sleman Mulai Surut, Petani Diminta Tak Lengah

Foto ilustrasi lahan pertanian diguyur hujan, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, SLEMAN—Populasi wereng batang cokelat di sejumlah areal persawahan di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, mulai menurun setelah serangkaian pengendalian terpadu dilakukan selama beberapa bulan terakhir. Berdasarkan hasil evaluasi terbaru, DP3 Sleman mengklaim populasi hama tersebut berkurang sekitar 52%, tetapi petani tetap diminta meningkatkan kewaspadaan agar serangan tidak kembali meningkat.

Penurunan populasi tersebut diperoleh dari hasil pengamatan Unit Reaksi Cepat (URC) setelah pelaksanaan gerakan pengendalian massal di sejumlah bulak di Kalurahan Banyurejo. Meski menunjukkan perkembangan positif, pengendalian lanjutan tetap dilakukan di Banyurejo dan Sumberejo guna menjaga kondisi tanaman padi tetap aman hingga masa panen.

Kepala DP3 Kabupaten Sleman, Liem Astuti, mengatakan wereng batang cokelat merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman (OPT) utama pada tanaman padi. Selain menurunkan produktivitas, hama tersebut juga dapat menjadi vektor penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa yang berpotensi menyebabkan kerugian lebih besar bagi petani.

"Pengendalian dilakukan secara terpadu sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas pertanian, melindungi hasil panen petani, dan mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Sleman," kata Liem saat dihubungi, Senin (13/7/2026).

Upaya pengendalian melibatkan berbagai pihak, mulai dari DP3 Sleman, UPT Balai Proteksi Tanaman Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah kalurahan, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Regu Perlindungan Tanaman (RPT), penyuluh pertanian, hingga kelompok tani.

Selama periode 26 Februari hingga 3 Juli 2026, kegiatan pengendalian dilakukan sebanyak 21 kali di Kalurahan Banyurejo, tiga kali di Kalurahan Tambakrejo, dan dua kali di Kalurahan Sumberejo, seluruhnya berada di Kapanewon Tempel. Kegiatan tersebut mencakup pemantauan populasi wereng, identifikasi musuh alami, penentuan rekomendasi pengendalian, pelokalisasian area serangan, hingga edukasi kepada petani.

Pada 2 Juli 2026, DP3 Sleman juga menggelar Gerakan Pengendalian Massal Wereng Batang Cokelat di sejumlah bulak di Kalurahan Banyurejo. Evaluasi dilakukan pada 4 Juli, kemudian tim URC kembali melakukan pengamatan pada 7 Juli.

"Hasil pengamatan menunjukkan populasi WBC pada lokasi pengamatan mengalami penurunan sekitar 52 persen dibandingkan sebelum pengendalian," katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pengendalian kembali dilaksanakan pada 9 Juli 2026 di Kalurahan Banyurejo dan Kalurahan Sumberejo agar populasi wereng tetap terkendali dan kondisi pertanaman tidak kembali mengalami peningkatan serangan.

Menurut Liem, perkembangan populasi wereng batang cokelat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola budi daya, penggunaan pupuk nitrogen, keberadaan musuh alami, hingga kondisi cuaca. Kelembapan udara yang tinggi disertai suhu hangat selama musim tanam menjadi kondisi yang mendukung perkembangan hama tersebut.

Karena itu, DP3 Sleman terus mendorong penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Upaya tersebut antara lain menjaga keberadaan musuh alami seperti laba-laba, capung, kumbang koksi, tomcat, parasitoid, dan jamur entomopatogen yang secara alami mampu menekan populasi wereng.

Selain itu, petani juga diimbau melakukan pengeringan sawah secara berkala, melakukan pengamatan tanaman setiap tiga hari, mengurangi penggunaan pestisida yang tidak diperlukan, menjaga sanitasi lahan, memanfaatkan agens hayati, serta menggunakan pestisida sesuai rekomendasi teknis apabila memang dibutuhkan.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sedyo Makmur 2 Morobangun Berbah, Solikin, mengatakan hingga kini petani di wilayahnya belum menghadapi persoalan serius akibat serangan wereng. Menurutnya, langkah pencegahan masih dilakukan melalui penyemprotan insektisida sesuai kebutuhan.

"Kalau wereng ya pencegahannya penyemprotan insektisida," kata Solikin.

Ia menambahkan, tantangan yang lebih sering dihadapi petani di Berbah justru berasal dari serangan tikus, terutama pada tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan palawija. Untuk tanaman padi, serangan tikus umumnya hanya terjadi di sebagian kecil lahan dan belum sampai menyebabkan gagal panen secara luas.

"Kalau padi jarang gagal panen. Satu bulak mungkin ada satu dua yang terdampak, tetapi tidak sampai gagal panen total," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online