Disnaker Sleman Soroti Ketimpangan Lulusan dan Peluang Kerja

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Kamis, 09 Juli 2026 03:47 WIB
Disnaker Sleman Soroti Ketimpangan Lulusan dan Peluang Kerja

Tenaga Kerja. - Freepik


Harianjogja.com, SLEMAN
Pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak positif di Kabupaten Sleman belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan dunia kerja. Di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor usaha, jumlah lulusan baru yang memasuki pasar kerja masih tumbuh lebih cepat dibandingkan penciptaan lapangan kerja formal.

Kondisi tersebut membuat persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat, terutama bagi lulusan perguruan tinggi dan SMA yang baru menyelesaikan pendidikan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman, Epiphana Kristiani, mengatakan perkembangan ekonomi DIY memang mendorong munculnya peluang kerja baru di sejumlah sektor. Kebutuhan tenaga kerja meningkat pada bidang perdagangan, pariwisata, pendidikan, jasa kesehatan, ekonomi kreatif, digital marketing dan e-commerce, teknologi informasi, manufaktur, logistik, hingga UMKM berbasis digital.

Meski demikian, pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja tersebut belum cukup untuk menyerap seluruh lulusan baru yang setiap tahun memasuki pasar kerja.

“Peningkatan permintaan tenaga kerja tersebut belum mampu menyerap seluruh lulusan baru yang setiap tahun memasuki pasar kerja,” kata Epiphana saat ditemui di kantornya, Selasa (7/7/2026).

Menurut dia, salah satu persoalan utama yang masih dihadapi adalah ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia industri atau mismatch. Saat ini perusahaan tidak hanya mempertimbangkan ijazah sebagai syarat utama penerimaan tenaga kerja.

Pelaku usaha juga membutuhkan calon pekerja yang memiliki pengalaman kerja, sertifikasi kompetensi, kemampuan digital, keterampilan komunikasi, penguasaan bahasa asing, hingga kemampuan menyelesaikan masalah.

Akibatnya, kelompok pengangguran terbuka masih banyak berasal dari lulusan SMA, SMK, maupun perguruan tinggi. Kondisi tersebut semakin terasa karena Kabupaten Sleman menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi di DIY yang setiap tahun menghasilkan ribuan lulusan baru.

Di sisi lain, pertumbuhan lapangan kerja formal belum mampu mengimbangi peningkatan jumlah angkatan kerja yang terus bertambah.

Perubahan pola kerja juga mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Disnaker Sleman mencatat pekerjaan berbasis platform digital atau gig economy semakin diminati sebagai alternatif sumber pendapatan.

Profesi seperti freelancer, content creator, digital marketer, kurir, hingga pelaku usaha digital kini menjadi pilihan bagi sebagian pencari kerja yang belum terserap di sektor formal.

Selain tantangan penyerapan tenaga kerja, kondisi pasar kerja juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK). Pada triwulan I 2026, tercatat sebanyak 222 pekerja dari 44 perusahaan di Sleman mengalami PHK.

Sebagian besar PHK dipicu kebijakan efisiensi operasional perusahaan. Selain itu, berakhirnya masa kontrak kerja dan penyelesaian hubungan kerja juga turut memengaruhi angka tersebut.

Menghadapi situasi tersebut, Disnaker Sleman memetakan lima tantangan utama yang perlu segera ditangani. Tantangan tersebut meliputi penurunan tingkat pengangguran terbuka, peningkatan kompetensi tenaga kerja berbasis kebutuhan industri, perluasan kemitraan dengan dunia usaha, penguatan kewirausahaan dan UMKM sebagai pencipta lapangan kerja baru, serta pengembangan sistem informasi pasar kerja.

Menurut Epiphana, penyelesaian persoalan ketenagakerjaan tidak hanya bergantung pada penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga pada kemampuan tenaga kerja menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

Karena itu, Disnaker terus mendorong pelatihan berbasis kompetensi, sertifikasi profesi, program pemagangan, Tailor Made Training (TMT), dan kerja sama dengan dunia usaha untuk meningkatkan daya saing pencari kerja.

Sementara itu, Pemkab Sleman juga menyiapkan strategi jangka panjang untuk mengurangi kesenjangan antara lulusan pendidikan dan kebutuhan industri melalui Program Beasiswa Sleman Pintar.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, mengatakan program tersebut dirancang tidak hanya untuk memperluas akses pendidikan bagi warga kurang mampu, tetapi juga memastikan lulusan memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.

Melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, program studi yang ditawarkan disesuaikan dengan kebutuhan industri saat ini. Selain itu, mahasiswa penerima beasiswa juga didorong mengikuti program magang agar memiliki pengalaman kerja sebelum lulus.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperbesar peluang lulusan terserap dunia kerja sekaligus mengurangi persoalan mismatch yang selama ini menjadi salah satu penyebab tingginya pengangguran terdidik.

Komitmen tersebut kembali diperkuat melalui penandatanganan perjanjian kerja sama Program Beasiswa Sleman Pintar tahun kedua antara Pemkab Sleman dan Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) pada Mei 2026. Dalam kesempatan yang sama, pemerintah daerah juga menjalin kemitraan dengan sejumlah korporasi dan mitra industri guna memperluas peluang praktik kerja bagi mahasiswa.

Dengan kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah daerah, Sleman berharap mampu menciptakan tenaga kerja yang lebih siap menghadapi kebutuhan pasar sekaligus menekan angka pengangguran di tengah pertumbuhan jumlah lulusan yang terus meningkat setiap tahun.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online