Musim Kemarau, Warga Sleman Diminta Waspadai Ular Masuk Rumah

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Rabu, 01 Juli 2026 17:57 WIB
Musim Kemarau, Warga Sleman Diminta Waspadai Ular Masuk Rumah

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN— Musim kemarau yang mulai berlangsung di Kabupaten Sleman memunculkan ancaman baru bagi warga. Ular dilaporkan semakin sering masuk ke kawasan permukiman akibat berkurangnya sumber air dan tempat berlindung di habitat alaminya.

Kondisi tersebut membuat petugas pemadam kebakaran harus lebih sering melakukan evakuasi hewan liar di lingkungan masyarakat. Warga pun diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama di area rumah yang memiliki semak-semak, tumpukan barang, atau saluran air yang jarang dibersihkan.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Sleman, Gunardi, mengatakan kemunculan ular di lingkungan permukiman hampir selalu meningkat ketika musim kemarau berlangsung.

"Menurut sepengetahuan saya, ketika musim kemarau, ular menjadi salah satu hewan liar yang banyak masuk permukiman," katanya kepada Harianjogja.com, Rabu (1/7/2026).

Data Satpol PP Sleman menunjukkan sejak awal tahun hingga 27 Juni 2026 petugas telah menangani sebanyak 1.176 evakuasi hewan liar. Penanganan tersebut didominasi oleh kasus ular dan sarang tawon yang ditemukan di lingkungan masyarakat.

Menurut Gunardi, angka tersebut belum termasuk permintaan evakuasi hewan peliharaan seperti sapi, kambing, maupun kucing yang juga kerap diterima petugas.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mencoba menangkap atau mengusir ular secara mandiri karena berisiko menimbulkan kecelakaan maupun gigitan yang membahayakan keselamatan.

"Warga sebaiknya segera melapor kepada petugas apabila menemukan ular atau hewan liar lainnya agar dapat ditangani dengan aman," ujarnya.

Komandan Regu I Bidang Damkar Satpol PP Sleman, Bayu Ibrahim Aji, menjelaskan sebagian besar laporan hewan liar yang masuk dari kawasan perkampungan padat penduduk berkaitan dengan keberadaan ular.

Menurut dia, ular cenderung mencari lokasi yang lembap dan memiliki banyak sumber makanan. Area yang kotor dan kurang terawat sering menjadi tempat favorit ular karena banyak ditemukan tikus, cicak, maupun serangga.

“Ular cenderung mencari tempat lembap yang biasanya kotor juga kumuh kan. Tempat-tempat itu biasanya juga menjadi habitat tikus, cicak, serangga. Ini kan makanan ular,” kata Bayu.

Data penanganan sebelumnya menunjukkan tren serupa. Sepanjang 2024, Damkar Sleman mencatat 1.172 kejadian evakuasi hewan liar dengan 440 kasus di antaranya merupakan evakuasi ular.

Untuk meminimalkan risiko, warga diimbau menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah, memangkas semak-semak, menyingkirkan tumpukan barang yang tidak digunakan, serta menutup celah yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular.

Petugas Damkar juga meminta masyarakat segera membuat laporan apabila menemukan ular masuk rumah. Pelaporan dapat dilakukan melalui layanan call center maupun kontak resmi yang tercantum pada akun Instagram Damkar Sleman.

Setelah menghubungi petugas, warga diminta mengirimkan identitas pelapor, alamat lengkap, titik lokasi melalui Google Maps, serta foto hewan apabila memungkinkan. Informasi tersebut akan membantu petugas mempersiapkan peralatan dan metode evakuasi yang sesuai sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan aman.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online