Dua Bangunan Cagar Budaya Limasan di Sleman Terancam Tergusur Tol Jogja-Bawen

Ilustrasi jalan tol. - JIBI/Nicolous Irawan
11 Agustus 2020 20:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Rencana pembangunan dua ruas jalan tol, Jogja-Solo dan Jogja-Bawen mengancam keberadaan bangunan cagar budaya (BCB). Kedua bangunan tersebut merupakan rumah limasan yang memiliki nilai sejarah tinggi khususnya pada masa perjuangan.

Satu BCB yang terancam tergusur ruas tol Jogja-Bawen adalah Rumah limasan milik Mijosastro di Pundong 2, Tirtoadi, Mlati. Sementara lainnya rumah limasan di Tegalrejo, Tamanmartani, Kalasan milik Soedarjo.

Rumah limasan di Pundong 2 pernah menjadi posko logistik para pejuang dan menjadi salah satu BCB yang ditetapkan melalui SK Bupati Sleman Tahun 2017. Adapun Rumah limasan di Tegalrejo juga menjadi salah satu markas pejuang Militer Akademi (Taruna Akmil). Bahkan ahli bom Indonesia sekaligus mantan Rektor UGM Herman Johannes yang juga pernah tidur di rumah tersebut.

Bedanya, rumah limasan di Tegalrejo ini belum terdaftar resmi sebagai BCB, namun pada 2016 pemiliknya mendapat penghargaan dari Pelestari Cagar Budaya dari Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY sebagai pelestari BCB.

Terkait keberadaan BCB tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksanaan Tol Jogja-Bawen, Heru Budi Prasetyo mengatakan rumah BCB tersebut nanti akan digeser. Nanti pembayaran seperti biasa, pemiliknya membeli tanah di sebelahnya kemudian dibangun kembali di sekitar sana. Bangunan tersebut akan dibangun kembali menyerupai aslinya.

BACA JUGA: Buntut Ditemukannya Benda Mirip Bom di Masjid Kampus, UNY Perketat Keamanan

"Itu bangunan kena semua. Bangunan itu knock down, oleh Pemda BCB itu akan digeser, bisa dibongkar pasang. Kemarin saat sosialisasi pemiliknya sudah membolehkan, dipindah namun tetap dijadikan cagar budaya," kata Heru, Selasa (11/8/2020).

Sejauh ini, katanya, hanya bangunan tersebut yang masuk dalam area pembangunan jalan tol Jogja-Bawen. Lainnya kata Heru, area persawahan, permukiman penduduk dan mata air. Sama halnya dengan BCB, mata air terdampak jalan tol juga nanti akan digeser. "Sudah ditracing sudah tidak ada lagi BCB," kata Heru.

Hal senada disampaikan Staff Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Tol Jogja-Solo Galih Alfandi. Menurut Galih, hingga saat ini terkait BCB perlakuannya masih sama dengan lahan-lahan warga yang lainnya. Alasannya, keberadaan rumah limasan yang knock down masih bisa dipindah. "Karena bangunan nya semi permanen sepertinya bisa di pindahkan ke tempat lain," kata Galih.