Sejumlah Warga Keberatan dengan Aksi Demo Digelar di Gejayan

Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Gejayan Ayem Tentrem (PGAT) melakukan aksi pemasangan spanduk dan penyampaian sejumlah tuntutan di sekitar simpang tiga Gejayan, Condongcatur, Depok, Sleman pada Selasa (18/8/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo.
19 Agustus 2020 07:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sejumlah orang yang tergabung dalam Paguyuban Gejayan Ayem Tentrem (PGAT) melakukan aksi pemasangan spanduk dan penyampaian sejumlah tuntutan di sekitar simpang tiga Gejayan, Condongcatur, Depok, Sleman pada Selasa (18/8/2020). Upaya tersebut adalah buntut dari diselenggarakannya sejumlah aksi demonstrasi oleh berbagai pihak di simpang tiga Gejayan.

Ketua Paguyuban Gejayan Ayem Tentrem Desi Setiawan, 35, mengatakan jika pemasangan spanduk yang bertuliskan "kami pedagang Gejayan mendukung Jl. Gejayan Ayem Tentrem tanpa ada aksi demo" dan penyampaian sejumlah tuntutan warga dan pelaku usaha bukan tanpa alasan. Pasalnya, simpang tiga Gejayan kerap menjadi tempat oleh sejumlah pihak dalam melancarkan aksi unjuk rasa.

BACA JUGA : Ada Demo Gejayan Memanggil, Ini Dia Skenario Lalu Lintas

"Kalau demo di sekitar Gejayan kami dari pelaku usaha, warga, bahkan tukang parkir merasa terganggu. Oleh karena itu, kami lakukan aksi pemasangan spanduk. Boleh demo asal tidak di sekitar wilayah Gejayan. Demo kan bisa dilakukan di gedung DPRD, kampus, maupun tempat lainnya, jangan di Gejayan lah, Gejayan bukan tempatnya untuk demo," ujar Selasa (18/8/2020).

Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh simpang tiga Gejayan, lanjut Iwan sapaan akrab Desi Setiawan, kerap menimbulkan kemacetan. Lalu lintas terpaksa harus dialihkan. Tidak hanya itu, petugas parkir juga kehilangan pendapatannya dikarenakan sejumlah toko harus tutup. Sejumlah pelaku usaha mengaku harus gigit jari karena harus menutup lapaknya dikarenakan aksi demonstrasi yang dilakukan di sekitar lokasi.

BACA JUGA : Selain Demo Ribuan Orang di Gejayan, Ternyata Ada Demo

"Gejayan itu kan bukan tempatnya demo, kalau terulang ekonomi kami akan hancur, yang jelas warga merasa terganggu, kami tidak melarang dilaksanakannya aksi demo, tapi ya di tempatnya masing-masing, jangan dilaksanakan di Gejayan, kami merasakan dampaknya sekali," ungkap Iwan.