Terganjal Anggaran, Penyediaan Shelter Kalurahan untuk Pasien Covid-19 di Kulonprogo Sulit Terlaksana

Ilustrasi. - Ist/Freepik
22 September 2020 15:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Kulonprogo masih mengkaji wacana penyediaan shelter di kalurahan bagi penderita corona yang tidak tertampung oleh rumah sakit rujukan.

Namun, wacana ini kemungkinan belum bisa terlaksana dalam waktu dekat karena pemerintah kalurahan disebut-disebut telah kehabisan anggaran dana desa yang digunakan untuk operasional shelter, termasuk pemenuhan logistik penderita.

Baca juga: CDC Tiba-Tiba Hapus Pedoman Covid-19 Menyebar Lewat Udara Sejauh 1,8 Meter

Hal itu disampaikan Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo, Fajar Gegana. Dia mengatakan saat ini wacana penyediaan shelter masih dalam kajian. Ada sejumlah pertimbangan yang membuat wacana ini belum bisa dilaksanakan.

Pertama karena ada penambahan kasus di Kulonprogo yang siginifikan sehingga membuat fokus gugus tugas terpecah. Sekarang kata Fajar, gugus tugas sedang fokus menangani penderita Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri dengan pengawasan yang diperketat.

"Sementara kami fokus ke penanganan kasus positif. Mereka menjalani isolasi mandiri dengan pengawasan yang ketat dari gugus tugas tingkat kalurahan sampai kabupaten dibantu warga sekitar," kata Fajar kepada awak media Selasa (22/9/2020).

Baca juga: Pandemi Bisa Berdampak pada Partisipasi Pemilih dalam Pilkada 2020

Pertimbangan kedua adalah mulai menipisnya anggaran yang dimiliki pemerintah kalurahan. Fajar mengatakan menjelang akhir tahun, anggaran seperti dana desa dari pemerintah pusat mulai berkurang drastis karena sudah dicairkan untuk keperluan di kalurahan seperti pembangunan infrastruktur atau pengembangan masyarakat.

Sementara pos anggaran penanganan Covid-19 di kalurahan sudah digunakan sejak pandemi Corona melanda, walhasil saat ini kalurahan mulai kehabisan dana untuk keperluan itu.

"Memang untuk kendalanya adalah soal pendaan. Saat ini kalurahan sudah tidak mampu lagi mengelola shelter karena dana desa telah menipis di akhir tahun. Sebetulnya kami berharap waktu itu ada wacana dana desa ditambah Kemenkeu tapi sekarang belum ada realisasi," ucapnya.

Secara pribadi, Fajar sangat berharap wacana ini bisa terlaksana. Menurutnya kehadiran shelter dapat memudahkan gugus tugas tingkat kalurahan dalam mengawasi penderita corona. "Kalau pengawasan di kalurahan lebih mudah karena terpusat, sementara kalau isolasi mandiri itu kan mencar-mencar jadi agak menyulitkan dalam mengawasi pergerakan penderita," ucap Fajar.

Oleh karena itu, untuk sementara gugus tugas mengoptimalkan pengawasan isolasi mandiri. Pengawasan diperketat dengan dibantu keluarga dan warga sekitar yang tinggal dekat dengan rumah penderita.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PMDP2KB) Kulonprogo, Sudarmanto mengatakan penyediaan shelter di kalurahan kekinian sukar terlaksana. Sebab pemerintah kalurahan sudah kehabisan dana operasional.

"Dana penanganan mencegah penularan Covid-19 dari dana desa sudah habis pada Juli dan Agustus 2020. Biaya Tak Terduga (BTT) kalurahan di beberapa Kalurahan juga sudah habis," ujar Sudarmanto.

Lurah Pengasih, Djoko Purwanto mengatakan sejak Juni 2020, pihaknya sudah tidak mampu membiayai operasional shelter yang digunakan sebagai tempat karantina pendatang atau warga yang baru pulang dari zona merah Covid-19. Sehingga wacana penyediaan shelter untuk penderita Corona sukar terlaksana.

Saat ini, untuk mengisolasi pendatang atau warga dari berpergian, Pemerintah Kalurahan Pengasih menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga atau warga sekitar, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan bahan makanan dan keperluan lain selama menjalani isolasi.

"Shelter sebenarnya masih dapat digunakan, tapi kami tidak mampu lagi menanggung biaya operasional," ucapnya.

Seperti diketahui dua rumah sakit rujukan dan satu tempat isolasi di Kulonprogo tak mampu lagi menampung pasien baru. Dua rumah sakit itu yakni RSUD Wates dan RS Nyi Ageng Serang, Sentolo. Kini seluruh ruang isolasi di sana sudah penuh. RSUD Wates yang berkapasitas 16 kamar telah terisi oleh pasien baik yang terkonfirmasi positif maupun suspek. Pun demikian dengan RS NAS yang berkapasitas empat kamar.

Sedangkan tempat isolasi khusus di Rumah Sunggah Teratai (RST) yang berlokasi di Kompleks RSUD Wates hampir memenuhi kapasitas. Dari 16 kamar kini hanya tersisa empat yang masih kosong. Dengan kondisi tersebut, mau tidak mau gugus tugas harus mencari tempat isolasi baru.

Salah satunya adalah dengan memanfaatkan lantai dua di RST RSUD Wates. Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo juga berencana mengintruksikan pemerintah di tingkat kapanewon ke bawah untuk menyediakan shelter.