Diklat Sosio-Kultural Pemda DIY Membentuk ASN yang Lebih Adaptif

Para narasumber dalam Diklat Sosio Kultural yang diselenggarakan oleh Pemda DIY bekerja dengan Yayasan Satu Nama, Selasa (22/9/2020). - Ist/Dok Humas Pemda DIY
23 September 2020 08:47 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Sebanyak 20 aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mengikuti Diklat Sosio Kultural yang diselenggarakan oleh Pemda DIY bekerja dengan Yayasan Satu Nama. Kegiatan pada Selasa (22/9/2020) di Gallery Prawirotaman Hotel ini secara ketat menerapkan standar protokol kesehatan.

Sekretaris Daerah DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengatakan Pendidikan dan Pelatihan dengan Kompetensi Sosiokultural merupakan hal yang wajib diikuti oleh ASN. Berbeda dengan adanya diklat managerial yang selama ini banyak diselenggarakan, yang bertujuan bagaimana cara menjadi seorang pemimpin, namun di sisi lain bagaimana menjadi staf yang baik yang bisa mengikuti visi dan misi pimpinan.

Baca juga: Puluhan Ribu Pemegang Kartu Tani Didata Ulang

"Ini sangat relevan karena situasi sekarang ini membutuhkan kompetensi sosio kultural yang lebih tinggi diantara kita," kata Baskara, dalam pembukaan diklat, Selasa.

Bila kompetensi sosial dimiliki, maka akan mengubah seseorang menjadi sangat adaptif, mengubah seseorang bisa menyesuaikan dengan baik di berbagai lingkungan, dengan demikian seseorang akan menjadi eksis di setiap pekerjaannya.

Ia mengatakan agar lebih efektif dalam diklat ini perlu digali betul bagaimana komunikasi dua arah atara peserta dan pengajar di bangun di dalamnya. Dengan adanya komunikasi yang intens antara peserta dan pengajar, akan bisa digali bagaimana diri seseorang sebenarnya.

Baca juga: Mendagri Gandeng Para Sekjen Parpol untuk Menjamin Keamanan Pilkada

"Kompetensi sosio kultural hanya bisa dinilai oleh orang lain dan tidak bisa diketahui hanya dengan melakukan instropeksi diri. Dalam Diklat sosio kultural ini akan diketahui diri kita itu seperti apa. Tingkat sosio kultural yang tinggi akan membawa dampak menjadi orang yang adaptif, orang yang bisa menerima perbedaan, itulah orang yang paling bahagia di duniaā€¯, tandasnya.

Kalau sudah menjadi bahagia seseorang akan mempunyai multi bakat dan minat sehingga dari sisi individual akan berkembang untuk mengubah keadaan.

Menurut Sekda DIY, tujuan diklat ini sangat relevan agar peserta dapat memahami, mengenali dan menerima perbedaan secara sosiokultural. Diklat ini juga meupakan upaya untuk mengembangkan dan mempromosikan keberadaan kompetensi sosiokultural dan menciptakan lingkungan kerja yang produktif dalam keberagaman.

Sedangkan sasaran yang diharapkan adalah dihasilkannya para ASN yang peka memahami dan menerima kemajemukan serta mempunyai kemampuan mendayagunakan perbedaaan secara konstruktif dan kreatif untuk meningkatkan efektifitas organisasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya di Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sementara itu menurut Kepala Badan Pendidikan dan Latihan DIY, Kuncoro Cahyo Aji, pelatihan dilaksanakan selama 6 (enam) hari kerja dimulai tanggal 22 September hingga 1 Oktober 2020 dengan sistem on-off class dengan tenaga pengajar berasal dari kalangan akademisi, Badan Diklat DIY, Pejabat Struktural Pemda DIY serta dari Yayasan Satu Nama.

Dalam kesempatan yang sama Pembina yayasan Satu Nama Methodius Kusuma Hadi menegaskan urgensi pengembangan kompetensi sosialkultural yang memfokuskan pada sikap toleransi adalah mengembangkan daya reflektif terhadap kondisi keberagaman bangsa.

Berpijak pada Undang- Undang Dasar 1945, Pancasila, Asas Pemajuan Kebudayaan Nasional, Nilai-nilai Kebudayaan di Indonesia yang merupakan dasar dalam penyusunan materi pelatihan kompetensi sosial kultural.

"Arus utamanya penyusunan materi tersebut adalah nilai perekat bangsa, mampu memahami, mengerti, dan mengarahkan penyusunan kebijakan strategis dan operasional sesuai kewenangan yang terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal yang ada di Indonesia khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Inilah yang menjadi tujuan dan pilot project dari pengembangan kompetensi sosialkultural," katanya.