Perajin Sangkar Burung di Kulonprogo Banjir Pesanan di Masa Pandemi

Ari Andrianto alias Dalidjo saat membuat sangkar burung di rumahnya di Dusun Kalipetir Lor, Kalurahan Margosari, Pengasih, Kamis (5/11/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
05 November 2020 15:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONOROGO—Perajin sangkar burung di Kulonprogo kebanjiran pesanan pada masa pandemi Covid-19.

Seorang perajin asal Dusun Kalipetir Lor, Kalurahan Margosari, Kapanewon Pengasih, Ari Andrianto, 30, menuturkan saat ini dirinya bisa menjual sedikitnya 20 sangkar burung dalam kurun waktu satu bulan. Jumlah itu naik dua kali lipat dibanding sebelum pandemi melanda. 

"Alhamdulillah pada masa pandemi ini jumlah pemesan mengalami kenaikan, dari sebelumnya hanya sekitar 10 sampai 15 orang, sekarang bisa 20 sampai 25 orang per bulan," kata pria yang akrab disapa Dalidjo ini saat ditemui di rumah produksi sangkar burung miliknya, Kamis (5/11/2020).

Dalidjo mengatakan kenaikan ini tergolong cukup baik meski tidak terlalu signifikan. Setidaknya, kata dia, pandemi tidak memperpuruk penjualan sangkar burung dengan merek Dalidjo Sangkar tersebut. Menurutnya selama pandemi ini, tingkat penjualan cukup stabil dan trennya meningkat dari waktu ke waktu.

"Kalau dibilang terpuruk tidak juga, penjualan masih stabil, bahkan meningkat meski tidak signifikan," ucap pria yang sudah menjadi perajin sangkar burung sejak 2010 silam tersebut.

Dalidjo menjual sangkar burung dalam dua wujud. Pertama ia menyebutnya sangkar mentahan. Sangkar ini sebenarnya sudah jadi dan bisa digunakan tetapi belum diplitur dan diwarnai sehingga disebut sangkar mentah. Harga tipe ini dipatok sekitar Rp45.000 sampai dengan Rp200.000 tergantung ukuran dan kerumitan pembuatan.

Jenis kedua adalah sangkar jadi yang sudah dipoles dan diwarnai. Untuk jenis ini dihargai paling murah Rp200.000 sampai dengan Rp350.000. "Yang bikin mahal pewarnaannya, kalau pemesan ingin warna natural harganya Rp200.000, dan kalau mau warna-warni lain bisa sampai Rp350.000," kata dia.

Harga sangkar bisa lebih mahal lagi jika pemesan ingin menggunakan bahan kayu jenis sonokeling. Kayu jenis ini bertekstur keras sehingga proses pembuatannya memakan waktu lebih lama. Jika ingin harga yang lebih murah, Dalidjo juga menyediakan sangkar berbahan kayu jati.

"Kalau jati itu lebih lunak, tapi juga tahan lama, jadi saya lebih prefer pakai bahan ini karena lebih murah dan banyak peminatnya juga," tuturnya.

Sangkar bikinan Dalidjo ini terbilang cukup kondang. Uniknya, pamor Dalidjo Sangkar justru lebih mentereng di luar Kulonprogo. Dalidjo menuturkan, banyak konsumennya justru berasal dari luar Bumi Menoreh seperti Jogja, Bantul, Sleman dan sebagian Jawa Tengah. Hal ini kata Dalidjo terkait dengan pola pikir masyarakat. Menurutnya pecinta burung luar Kulonprogo lebih mengutamakan kualitas sangkar meski harganya bakal lebih mahal.

"Karena saya memang mengutamakan kualitas, oleh karena itu saya kerjakan semua ini sendiri untuk memastikan mutu sangkar buatan saya, walaupun harganya lebih tinggi tapi itu sebanding dengan hasilnya," ucapnya.

Aipda Sunu Prasetya Jati, Bhabinkamtibmas Kalurahan Margosari, mengatakan pada masa pandemi seperti ini, banyak UMKM di Kulonprogo yang terpuruk. Penghasilan mereka menurun drastis sehingga membutuhkan bantuan tidak hanya modal tapi juga motivasi. Pemberian motivasi dilakukan agar UMKM tetap bisa bertahan.

"Ini dilakukan sebagai upaya membangkitkan semangat UMKM di Margosari di masa pandemi Covid-19," kata Sunu.

Di samping memotivasi, Sunu juga secara langsung menjadi iklan berjalan bagi usaha milik Dalidjo. "Kebetulan kan saya juga pecinta burung jadi sering ketemu dengan sesama pecinta burung, nah momen seperti itu biasa saya manfaatkan untuk mengabarkan teman-teman kalau di Margosari ada pembuat sangkar burung bagus, dari situlah ada yang berminat beli, ada juga yang sekadar servis sangkar karena di tempat Dalidjo juga menyediakan jasa tersebut," kata Sunu.