Advertisement
Kasus PMK Awal 2026 di Kulonprogo Menurun, Vaksinasi Disiapkan
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Sugeng Purwanto (kanan) mendampingi dokter hewan menyuntikan vaksin PMK di kandang Kelompok Ternak Pandanmulyo, Dusun Ngentak, Poncosari, Srandakan, Rabu (29/6/2022). - Istimewa
Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO—Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi ternak di Kabupaten Kulonprogo yang sempat melonjak pada awal 2026 kini mulai menunjukkan tren penurunan. Dari total 80 sapi yang terjangkit PMK, sekitar 50 persen dilaporkan telah sembuh, sementara sisanya masih dalam proses pemantauan dan pengobatan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapang) Kulonprogo, Yuriati, menjelaskan lonjakan kasus PMK di awal tahun ini banyak ditemukan di Kapanewon Wates dan Temon. Tingginya angka tersebut dipicu keberadaan kandang kelompok yang mempercepat penularan antarsapi.
Advertisement
“sekarang sudah menurun, dari hasil laporan per 30 Januari kemarin sudah 50 persen sudah sembuh. Sisanya masih dalam pemantauan pengobatan,” katanya kepada wartawan saat dikonfirmasi, Senin (2/2/2026).
Yuriati mengungkapkan, angka 80 kasus PMK yang tercatat pada awal 2026 juga merupakan akumulasi dari temuan di akhir 2025. Meski jumlah kasus tertinggi se-DIY, ia menegaskan hingga kini belum ditemukan sapi yang mati akibat PMK di Kulonprogo.
“Kalau PMK itu angka kesakitannya tinggi, tingkat kematiannya memang tidak setinggi penyakit menular seperti Antraks. Akan tetapi itu juga tergantung daya tahan dari hewan tersebut. Terus kalau daya tahan, kan itu penyebabnya virus,” lanjutnya.
Menurut Yuriati, PMK yang disebabkan oleh virus tidak memiliki obat penyembuh secara spesifik. Upaya penanganan lebih difokuskan pada pencegahan serta menjaga kondisi tubuh sapi agar tetap stabil.
Namun kata Yuriati, ketika terserang PMK langkah yang harus dilakukan mempertahankan kondisi tubuh sapi dengan pemberian anti sakit, anti radang, vitamin, juga anti infeksi untuk mencegah terjadinya infeksi ikutan atau infeksi sekunder dari bakteri.
“Sisa 40an kasus PMK semoga tidak ada penambahan lagi. Di Wates paling banyak PMK karena ada kandang kelompok jadi cepat penularannya,” ucapnya.
Untuk menekan potensi penambahan kasus, Dispertapang Kulonprogo berencana mulai melaksanakan vaksinasi PMK pada Februari 2026. Vaksinasi akan difokuskan pada wilayah yang nihil kasus PMK dan kondisi ternaknya benar-benar sehat.
“Vaksinasinya nunggu jadwal dari teman-teman di lapangan sambil memantau kondisi di lapangan siap atau tidak dilaksanakan vaksinasi. Karena vaksinasi juga harus selektif, tidak asal divaksin, harus selektif melihat ternaknya, melihat lokasinya tertular atau nggak, kondisinya sehat atau nggak. Jadi nggak asal ternak yang tidak sakit divaksin,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dispertapang Kulonprogo, Trenggono Trimulyo, menyampaikan pemerintah pusat telah menyalurkan 9.200 dosis vaksin PMK. Setiap dosis diperuntukkan bagi satu ekor sapi yang telah pulih sepenuhnya dari PMK.
“Kalau vaksinnya nggak rutin ya bisa tertular lagi walaupun gejalanya lebih ringan. Jadi harus rutin setiap 6 bulan agar daya tahan tubuh atau antibodinya cukup untuk melawan penyakit tersebut,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Prabowo dan Megawati Bahas Isu Geopolitik Global di Istana Jakarta
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Kali Talang hingga Deles Indah Kembali Dibuka 22 Maret 2026
- 1.381 Warga Binaan di DIY Terima Remisi Idulfitri 1447 H
- Ikuti Salat Id di Sendangadi, Danang Maharsa Tekankan Gotong Royong
- Dinkes Bantul Siaga Risiko KLB dan Kasus Keracunan Saat Lebaran
- Posko Ramah Pemudik Gereja Aloysius Gonzaga Dibuka hingga H+5 Lebaran
Advertisement
Advertisement








