Kaget! Warga Bleberan Gunungkidul Ditagih Tunggakan Listrik Rp44 Juta

Mila Suharningsih, warga Menggoran II, Kalurahan Bleberan, Playen saat menunujukan tagihan listrik dari PLN, Jumat (27/11/2020). - Harian Jogja/David Kurniawan
27 November 2020 15:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Mila Suharningsih dan Suratno, warga Dusun Menggoran II, Kalurahan Bleberan, Playen, Gunungkidul, terperanjat dengan tagihan listrik yang mencapai belasan puluhan juta rupiah. Rasa terkejut muncul karena keduanya merasa telah rutin membayar setiap bulan.

Mila Suharningsih mengatakan instalasi listrik yang terpasang dirumahnya 1.300 Kwh. Rata-rata setiap bulan dia membayar sekitar Rp200.000. Namun saat petugas catat datang ke rumah sempat ada pemberitahuan akan adanya kenaikan tagihan. “Ternyata benar naik yang biasanya hanya sekitar Rp200.000 menjadi Rp790.000 untuk pembayaran tagihan terakhir,” kata Mila saat ditemui di rumahnya, Jumat (27/11).

BACA JUGA: Wali Kota Cimahi Terjaring OTT KPK, Uang Rp420 Juta Jadi Barang Bukti

Dia menyangka membayar tagihan terakhir sudah menyelesaikan masalah. Namun perkiraan itu keliru, karena masih ada petugas PLN yang datang dan memberitahukan Mila memiliki tunggakan pembayaran hingga 28.000 Kwh. “Kalau ditotal bersama dengan biaya administrasi nilainya sekitar Rp44 juta. Jelas saya kaget karena setiap bulannya tertib membayar sesuai dengan tagihan yang diberikan,” katanya.

Mila sudah berkomunikasi dengan manajemen PLN Area Wonosari. Awalnya, Mila diminta membayar tunggakan secara penuh dengan membayar uang muka Rp27 juta. Kekurangan dari sisa pembayaran diangsur selama satu tahun. Ia mengaku tidak kuat apabila diminta membayar tagihan Rp44 juta, hingga akhirnya hanya diminta membayar sekitar Rp8,7 juta. “Cara bayarnya, saya diminta memberikan uang muka sebesar Rp5 juta, kemudian sisanya diangsur selama enam bulan,” katanya.

Melonjaknya tunggakan tagihan listrik ini juga dialami oleh Suratno, tetangga Mila. Namun besaran tunggakan lebih kecil dibandingkan milik Mila karena tertunggak sebanyak 10.000 Kwh. Anak Suratno, Zubaidi, mengatakan dengan tunggakan 10.000 Kwh, sehingga diwajibkan membayar tagihan sebesar Rp16 juta. “Jelas kaget, wong kami rutin membayar dan biasanya hanya di kisaran Rp200.000,” katanya.

BACA JUGA: Asumsikan Pandemi Sudah Berakhir Tahun Depan, Pemkab Bantul Tak Anggarkan Bansos Sapu Jagat

Zubaidi mengungkapkan berdasarkan pembicaraan dengan manajemen PLN, dia hanya diminta membayar sebesar Rp8,7 juta, yakni dengan membayarkan uang muka Rp5 juta dan sisanya diangsur selama satu tahun. “Awalnya minta dilunasi enam bulan, tapi saya nego agar dilunasi selama 12 bulan,” katanya.

Manajer PLN ULP Wonosari, Pranawa Erdianta belum bisa dikonfirmasi terkait dengan masalah ini. Saat ditemui di kantornya pada Jumat siang,dia  tidak berada di ruangan karena dinas ke Semarang. “Pak Manajer ke Semarang, tadi berangkat sebelum jam 12.00 WIB,” kata salah seorang satpam di kantor PLN Wonosari.

Humas PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Yogyakarta, Rina Wijayanti, mengatakan sudah mendengar permasalahan yang dihadapi oleh pelanggan di wilayah Gunungkidul. Menurut dia, permasalahan ini muncul karena adanya kesalahan dari petugas catat meter sehingga tagihan yang muncul tidak sesuai dengan jumlah penggunaan sebenaranya. “Ini terakumulasi selama beberapa tahun. Sudah diselesaikan dengan cara pelanggan diminta membayar tagihan rata-rata selama enam bulan terakhir,” katanya.