Masdjo Komitmen Tebarkan Narasi Positif tentang Jogja

Suasana acara ulang tahun Masdjo yang ke-4 di Selasar Diskominfo Coworking Space, Diskominfo DIY, pada Senin (7/12/2020)-Harian Jogja - Sirojul Khafid.
08 Desember 2020 16:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Masyarakat Digital Jogja (Masdjo) menggunakan media digital untuk melawan berita bohong dan narasi negatif tentang Jogja. Menurut Koordinator Masdjo Eko Nuryono, selama ini banyak narasi negatif di Jogja yang bertebaran di dunia digital.

“Jogja membutuhkan konten yang positif untuk membangun citra positif. Selama ini banyak narasi liar baik nagatif ataupun positif. Kami memberi balancing [keseimbangan] dari berita yang ada. Bahwa ada berita baik di Jogja yang publik perlu tahu,” kata Eko di acara ulang tahun Masdjo ke-4 di Selasar Diskominfo Coworking Space, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY pada Senin (7/12/2020).

Anggota Masdjo yang berasal dari pengelola media sosial (medsos) dan blog saling melengkapi dalam kegiatannya. Akun media sosial memiliki kemampuan untuk memviralkan kontennya, namun lemah dalam produksi. Sebaliknya, para blogger punya konten bagus, namun tidak punya daya dorong untuk menjadi viral. “Kedua kekuatan ini yang kami coba kolabarasikan untuk kepentingan Jogja,” kata Eko.

Salah satu contohnya saat pemberitaan negatif tentang klitih di Jogja. Saat banyak orang mencari informasi di internet, ada anggapan bahwa Jogja tidak aman. Padahal klitih terjadi di berbagai tempat. “Di Jogja hanya satu dua kasus. Seolah-olah terjadi di mana-mana. Kita kadir untuk mengonter narasi itu kalau Jogja baik-baik saja,” kata Eko.

Gusti Kanjeng Ratu Hayu menganggap Masdjo yang berumur empat tahun ini sudah cukup solid. Pihak yang bergabung di dalamnya tahu informasi yang patut disebar atau tidak. Pengguna media sosial yang bagus memiliki tanggung jawab atas pengikutnya.

Di masa pandemi Covid-19 seperti ini, Gusti Hayu merasa banyak kabar hoaks yang tersebar. “Kita punya tanggung jawab moral. Apalagi di masa seperti ini, perlu tepo seliro [tenggang rasa] baik sama lingkungan atau alam. Misal bisa pakai [media sosial] untuk kebaikan maka pakailah untuk kebaikan,” kata Gusti Hayu di sela-sela acara.

Bermedia sosial yang baik bisa menangkal hoaks yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Kepala Diskominfo DIY Rony Primanto Hari merasa penting untuk memberikan informasi yang benar, terutama ke depan banyak agenda pemerintah termasuk distribusi vaksin. Masdjo merupakan salah satu forum yang bisa membantu menyebarkan informasi. “Masdjo punya semangat dan idealisme untuk membuat suasana di medsos berlangsung aman, tentram, dan nyaman untuk kita semua,” kata Rony.

Saat ini, sekitar 65 persen masyarakat Indonesia telah menggunakan internet. Redaktur Pelaksana Harian Jogja Nugroho Nurcahyo menyatakan bahwa informasi pertama yang masyarakat konsumsi berasal dari medsos. Sementara medsos merupakan sarana paling mudah untuk menyebarkan informasi yang belum teruji kebenarannya.

“Generasi milenial membaca berita pertama dari medsos. Media mainstream [arus utama] menjadi rujukan kedua,” kata Nugroho. “Termasuk di Instagram, sekarang beberapa orang malas membaca caption, tapi langsung [ingin ada narasi] di gambarnya. Perkembangan pengguna internet tidak dibarengi dengan literasi digital.”

Hadir pula dalam acara ini Dewi Prawitasari sebagai Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIY, Trisno Agung Wibowo dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, dan Sulistiyani dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Selain memaparkan kabar terbaru dari instansi masing-masing, mereka menyatakan pentingnya informasi di media sosial yang kini menjadi rujukan informasi bagi masyarakat.

Dalam pemaparan Sulistiyani, di masa aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang tinggi, sering tersebar berita hoaks. Banyak gambar Gunung Merapi yang terlihat di YouTube atau WhatsApp. “Banyak sekali jumlahnya. Misal dikonfirmasi semua, beranda [sosial media] BPPTKG akan penuh dengan klarifikasi hoaks. Masyarakat perlu memantau informasi dari sumber terpercaya,” kata Sulistiyani.