Trase Tol Jogja-Solo Seksi III di Mlangi Bergeser

Ilustrasi. - Freepik
16 Desember 2020 20:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pemerintah terus merampungkan trase Tol Jogja-Solo seksi ketiga yang melewati Gamping hingga Bandara NYIA, Kulonprogo. Dalam prosesnya, terjadi pergeseran trase yang melewati wilayah Mlangi, Nogotirto, Gamping. Jalan tol yang sebelumnya direncanakan at grade, sebagian akan diubah menjadi elevated.

Pergeseran trase ini dilakukan karena trase awal membelah kampung dan melewati kawasan wisata religi Mlangi. Mulai Mlangi Blendangan, Mlangi dan Sawahan. Selain itu, trase awal juga melewati sebuah kampus (Unisa) yang berada di wilayah tersebut. Atas pertimbangan tersebut, Forum Komunikasi Warga Mlangi pun meminta agar ada penggeseran trase.

Ada sejumlah pertimbangan yang diajukan Forum Komunikasi Warga Mlangi, di mana lokasi tersebut merupakan kawasan wisata religi dan menjadi pusat perkembangan Islam di Jogja. Termasuk keberadaan lembaga pendidikan umum dan pesantren. Tidak hanya itu, di lokasi yang dilewati trase tol juga terdapat Masjid Pathok Nagoro Kagungan Ndalem Kraton Ngayogyakarta. "Dari pertimbangan sejumlah fakta ini, maka kami berharap ada penggeseran trase tidak melewati Mlangi. Ini disampaikan trase yang baru," ujar Wakil Ketua Yaysan Pondok Pesantren Nur Iman Mlangi, Muslih Mukhtar, Rabu (16/12/2020).

BACA JUGA: Ada Taman Pintar Hingga Embung, Selatan Jogja Jadi Kawasan Wisata Baru Terintegrasi

Muslih mengaku, trase baru jalan tol sudah tidak mengenai pondok pesantren. Tetapi masih mengenai dua masjid dan panti jompo di Mlangi. Diakuinya, pembangunan tol yang dilakukan pastinya berdampak kepada masyarakat namun ia meminta agar ada solusi sehingga tidak terjadi cacat sosial. "Win win solution ini yang kami harapkan dengan berbagai pertimbangan tadi," katanya.

Anggota Komisi D DPRD DIY Syukron Arif Muttaqin yang mendampingi aspirasi warga Mlangi menjelaskan setelah pertemuan dengan Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan (PBJH) Jogja-Solo, pergeseran disepakati sejauh 100 meter ke Timur dari titik awal. Jika trase sebelumnya dibangun secara at grade, maka pada trase yang baru di sebagian Mlangi dibangun secara elevated. Namun trase yang baru ini, katanya, dinilai belum final.

Pergeseran trase ini, lanjutnya, juga mempertimbangkan rencana pengembangan pesantren di Mlangi yang telah lama disiapkan. "Rencana pengembangan ke arah timur. Kalau terkena tol dikhawatirkan akan mempersulit pengembangan pesantren ke depan. Selain itu, Mlangi masuk SRS (satuan ruang strategis) yang diatur oleh perdais keistimewaan," katanya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan (PBJH) Jogja-Solo, Wijayanto mengatakan trase yang diminta untuk digeser di Mlangi merupakan jalur tol Jogja-Solo untuk seksi ketiga. Jalur ini dibangun dari Gamping hingga NYIA, Kulonprogo. Dia mengatakan jika awalnya trase ini dibangun secara at grade. Namun akibat pergeseran trase, maka pembangunan tol di Mlangi sebagian dibangun secara elevated. Dampaknya, ada penambahan biaya sekitar Rp300 miliar akibat perubahan trase tersebut dari semula at grade menjadi elevated.

"Nanti di Mlangi dibangun elevated sepanjang 1,6 kilometer. Ini untuk mengindari beberapa pesantren di Mlangi dan Unisa. Setelah digeser, nanti ada satu gudang yang sebelumnya tidak terdampak, akan terkena pembangunan tol," kata Totok.