Advertisement
Warga Pakualaman Berhasil Kurangi Sampah Hingga 50 Persen
Foto ilustrasi sampah organik. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Warga Kemantren Pakualaman, Kota Jogja, berhasil mengolah sampah secara mandiri hingga mampu menekan timbunan sampah sampai 50 persen. Keberhasilan ini dicapai melalui pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dengan sistem pemilahan berlapis.
Mantri Pamong Praja Kemantren Pakualaman, Saptohadi, menyebutkan sebelumnya timbunan sampah di wilayahnya mencapai sekitar 6 ton per hari. Berkat pengolahan mandiri yang konsisten, jumlah sampah yang masih harus diangkut kini tinggal sekitar 1,2 ton per hari, khususnya dari wilayah Gunungketur dan Purwokinanti.
Advertisement
“Dari potensi [timbunan sampah] sekitar 6 ton per hari, kini tersisa sekitar 1,2 ton per hari untuk wilayah Gunungketur dan Purwokinanti. Pengangkutan dilakukan langsung oleh DLH [Kota Jogja] lima hari dalam seminggu ke TPS3R Nitikan,” katanya, Rabu (14/1/2026).
Pengangkutan sisa sampah tersebut dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja sebanyak lima hari dalam sepekan menuju TPS3R Nitikan. Saptohadi menilai capaian ini tidak lepas dari peran aktif warga dalam mengelola sampah organik maupun anorganik sejak dari rumah masing-masing.
BACA JUGA
Untuk sampah organik, warga Pakualaman memanfaatkan biopori jumbo dan ember tumpuk guna mengolah sampah menjadi pupuk organik. Sementara sampah anorganik disalurkan melalui sejumlah bank sampah yang telah berjalan aktif di wilayah tersebut. Saptohadi menambahkan Pakualaman kini menjadi satu-satunya kemantren yang tidak lagi bergantung pada depo sampah.
Lurah Gunungketur, Sunarni, menambahkan hampir seluruh warga di wilayahnya telah terbiasa memilah sampah organik basah, organik kering, dan sampah residu. Sampah organik kering dikelola melalui 21 sumur biopori, sedangkan organik basah dikumpulkan dalam ember untuk kemudian dijemput oleh offtaker.
“Sampah yang dibuang benar-benar residu. Kami memiliki 21 sumur biopori untuk sampah organik kering, sementara organik basah dikumpulkan di ember dan dijemput offtaker,” katanya.
Sunarni menegaskan hanya sampah residu yang benar-benar tidak dapat diolah yang dibuang ke depo. Warga juga diwajibkan memilah sampah sebelum diangkut transporter. Jika sampah tidak dipilah, pengangkutan tidak dilakukan sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan dan melindungi sistem pengangkutan yang kini tidak lagi bergantung pada depo sampah.
“Kalalu sampah tidak dipilah, tidak akan diangkut. Ini melindungi transporter karena sekarang mereka tidak lagi bisa membuang sampah ke depo,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Sejumlah Negara di Eropa Imbau Warganya Tinggalkan Iran karena Protes
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Hujan dan Angin Terjang Sleman, 28 Pohon Tumbang di 11 Kapanewon
- Sleman Revitalisasi Tiga Pasar Sambut Tol dan Gelombang Wisatawan
- Lurah Sampang Gedangsari Dipecat karena Masuk Bui, Ini Penggantinya
- Jumlah Pernikahan di Bantul Terus Menurun dalam 3 Tahun Terakhir
- Aksi Pencurian Kotak Infak Masjid Resahkan Warga Kraton Jogja
Advertisement
Advertisement




