Pakar UGM Sebut Varian Baru Covid-19 Belum Terbukti Membahayakan

Ilustrasi. - Freepik
26 Desember 2020 15:17 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Varian baru Covid-19 yang dikenal dengan nama VUI 202012/01 yang ditemukan di Inggris belum menunjukkan bukti yang lebih berbahaya dibandingkan virus corona yang sudah ada sebelumnya.

Hingga sampai hari ini varian VUI 202012/01 telah ditemukan pada 1.2% virus pada database GISAID, 99% varian tersebut dideteksi di Inggris, Irlandia, Perancis, Belanda, Denmark, Australia. Sedangkan untuk Asia, baru ditemukan pada tiga kasus yaitu Singapura, Hong Kong dan Israel.

BACA JUGA : Kelelahan hingga Kebingungan, Gejala Virus Corona Varian

Akademisi UGM yang mempakari terkait virus, Gunadi mengatakan varian baru Covid-19 ini terdiri dari sekumpulan mutasi antara lain sembilan mutasi pada protein S. Dari sembilan mutasi tersebut pada VUI 202012/01, ada satu mutasi yang dianggap paling berpengaruh yaitu mutasi N501Y. Hal ini karena mutasi N501Y terletak pada Receptor Binding Domain (RBD) protein S.

Mutasi ini diduga meningkatkan transmisi antar manusia sampai dengan 70%. Namun begitu, mutasi ini belum terbukti lebih berbahaya atau ganas. “Demikian juga, mutasi ini belum terbukti mempengaruhi efektivitas vaksin Corona yang ada,” katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com Sabtu (26/12/2020).

Menurutnya tes swab PCR bisa digunakan untuk diagnosis infeksi varian baru COVID-19 dengan mendeteksi kombinasi beberapa gen pada virus Corona. Karena varian baru tersebut terdiri dari multimutasi pada protein S, maka diagnosis COVID-19 sebaiknya tidak menggunakan gen S, bahkan bisa memberikan hasil negatif palsu.

BACA JUGA : Varian Baru Virus Corona Suda Terdeteksi di Singapura

Oleh karena itu, peran surveilans genomik (whole genome sequencing) virus Corona menjadi sangat penting dalam rangka identifikasi mutasi baru, k pelacakan (tracing) asal virus tersebut dan dilakukan isolasi terhadap pasien dengan mutasi tersebut, sehingga penyebaran virus Corona bisa dicegah lebih lanjut.

“Kami mengimbau masyarakat lebih waspada dengan adanya mutasi baru tersebut, namun tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan. Masyarakat tetap harus menerapkan 3M, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dengan menghindari kerumunan,” ucapnya.